Kediri – Arte De Amore lahir dari pandangan bahwa seni adalah bentuk cinta, diwujudkan melalui penggabungan pelbagai disiplin seni dan komunitas untuk menghadirkan warna baru bagi ruang kreatif anak muda di Kota Kediri.
“Arte De Amore adalah bagaimana memandang seni sebagai sebuah cinta. Bagaimana movement kecil berangkat dari beberapa kolaborasi komunitas menjadi gerakan atau tenaga besar berjalannya kreativitas anak muda di kota Kediri ini,” ungkap Inisiator Arte De Amore, Ahmad Farid Abdillah.
Inisiatif ini melibatkan seniman serta komunitas secara luas, melintasi disiplin ilmu hingga batas daerah. Bentuk karya yang ditampilkan mencakup performance art, seni rupa, lukis, ilustrasi, instalasi, fashion, komedi, hingga musik elektronik.
“Untuk seniman, kita kolaborasi bareng ada seniman Jakarta, seniman Bali, seniman Malang, berkolaborasi dengan 20 seniman Kediri. DJ yang tampil di Art De Amore sekitar 26 DJ. Kita juga kolaborasi dengan beberapa komunitas seperti motor custom, komunitas pelari dan lainnya,” jelas Farid.
Menyatukan beragam latar belakang ke dalam satu ruang menjadi tantangan tersendiri. Farid mengibaratkan keragaman ini seperti sajian beragam jenis nasi, sehingga pengunjung bebas menikmati seni sesuai selera.
“Semua punya disiplin kreatif atau semangat kreatif masing-masing, ketika itu diumpamakan sebuah nasi, mungkin ada nasi merah, ada nasi kuning, ada nasi putih. Artinya bagaimana menikmati, memenuhi piringnya masing-masing dari semangat disiplin kreatif yang berbeda-beda,” tuturnya.
Arte De Amore ini bertempat di Venti Curv, sebuah kafe di wilayah Pagora, Kota Kediri, yang kerap menjadi tempat berkumpul anak muda. Berlangsung pada 11–18 September 2026, Arte De Amore mencatatkan sejarah sebagai pameran kreatif pertama di Kota Kediri yang digelar selama delapan hari.
“Memperlihatkan bahwa kafe itu bukan hanya ruang bertemu, tapi bagaimana kreativitas bisa disalurkan,” tukas Farid.
Gerakan yang turut merangkul stand up comedian lokal ini diharapkan mampu memberi dorongan positif bagi masa depan ekosistem kreatif Kediri.
“Sehingga anak-anak muda mempunyai gambaran yang sama untuk membangun kreatif di Kota Kediri. Harus lebih siap, lebih semangat, menyambut event-event kreativitas, terutama dalam seni lukis atau musik. Kediri sangat butuh movement seperti ini untuk keberlangsungan event kreatif di Kediri,” tambahnya.
Arte De Amore disambut hangat oleh para peserta maupun pengunjung. Seniman asal Kota Kediri, Dwi Agni, menilai ajang ini sangat berarti bagi perkembangan perupa muda.
“Sebagai jembatan bagi kita yang masih muda atau awal untuk tahu bagaimana rasanya atau bagaimana cara mengembangkan atau menghidupkan sebuah ekosistem secara organik,” ujar Dwi Agni.
Seorang pengunjung bernama Niko juga membagikan kesan positifnya terhadap pameran ini.
“Bagus, acaranya menarik. Saya sendiri kebetulan juga pelaku seni, kalau ada yang teman yang suka juga ikut mendorong untuk ikut berkarya,” jelas Niko. mg
