Kediri – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mencatat penambahan satu kasus demam berdarah dengue (DBD) yang telah terkonfirmasi melalui Keterangan Diagnosis Rumah Sakit (KDRS). Dengan tambahan tersebut, jumlah kasus DBD di Kota Kediri sejak Januari hingga awal Agustus 2026 menjadi 19 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri, Hendik Supriyatno, mengatakan kasus terbaru ditemukan di Kelurahan Manisrenggo RT 2 RW 5. Selain satu pasien yang telah dipastikan positif DBD, terdapat dua warga lain yang hasil pemeriksaan rapid diagnostic test (RDT) menunjukkan hasil positif dan saat ini masih menunggu KDRS dari rumah sakit.
“Yang satu sudah positif, hasil KDRS dari rumah sakit sudah keluar. Sedangkan dua orang lainnya hasil RDT positif, namun masih menunggu KDRS sehingga belum bisa kami masukkan ke dalam laporan kasus,” ujar Hendik Senin (3/8).
Meski dua kasus tersebut belum resmi tercatat, Dinkes langsung melakukan langkah antisipasi karena ketiganya berada dalam satu radius yang sama. Petugas melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan sekitar sekaligus fogging untuk memutus rantai penularan.
“Karena lokasinya berdekatan dengan kasus yang sudah terkonfirmasi, kami langsung melakukan PSN dan fogging di wilayah tersebut. Dua pasien dengan hasil RDT positif juga sudah kami rujuk untuk penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Hendik menambahkan, dasar pencatatan kasus DBD di Dinkes mengacu pada KDRS yang diterbitkan rumah sakit. Hal itu karena diagnosis akhir ditetapkan oleh dokter yang menangani pasien.
Menurutnya, mayoritas kasus DBD yang terjadi di Kota Kediri tahun ini masih didominasi anak-anak.
Meski demikian, Hendik menyebut tren DBD di Kota Kediri sepanjang 2026 mengalami penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Penurunan tersebut sejalan dengan kondisi yang juga terjadi di sejumlah daerah lain.
“Alhamdulillah tahun ini kasusnya menurun. Kami berharap tren penurunan ini bisa terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Untuk menekan penyebaran DBD, Dinkes terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat melalui media massa maupun kader kesehatan.
“Masyarakat juga diimbau rutin menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang atau mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan berbagai upaya pencegahan lainnya,” pungkasnya. kin/mg
There is no ads to display, Please add some










