Kediri – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri menghadirkan cara berbeda dalam mengembangkan budaya literasi melalui Book Camp bertema “Membaca Alam, Menulis Diri” yang digelar di Wow Cafe, Sumber Podang. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya mengikuti kelas menulis, tetapi juga berkemah di alam terbuka untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan lingkungan.
Sebanyak 20 pegiat literasi mengikuti kegiatan ini setelah lolos seleksi yang cukup ketat. Mereka berasal dari berbagai komunitas membaca dan kalangan mahasiswa. Antusiasme peserta pun tinggi. Untuk mendapatkan satu kursi dalam Book Camp, calon peserta harus berebut saat pendaftaran dibuka dan menyatakan komitmen menghasilkan sebuah cerpen yang nantinya akan dicetak menjadi buku.
Kepala Disarpus Kota Kediri, Chevy Ning Suyudi, mengatakan konsep Book Camp di alam dipilih karena mampu menciptakan suasana belajar yang lebih tenang, nyaman, sekaligus memantik kreativitas peserta.
“Alam dipilih karena menghadirkan suasana yang tenang, nyaman, dan berbeda dari ruang belajar formal. Lingkungan terbuka membantu peserta lebih rileks, peka terhadap keadaan sekitar, serta memperoleh inspirasi melalui apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Alam menjadi ruang belajar sekaligus sumber ide untuk menulis,” ujarnya Minggu (2/8).
Menurut Chevy, tema “Membaca Alam, Menulis Diri” dipilih untuk mengajak peserta memahami bahwa membaca tidak hanya dilakukan melalui buku, tetapi juga melalui lingkungan, pengalaman, dan perasaan. Dari hasil pengamatan tersebut, peserta diajak merefleksikannya menjadi karya tulis yang jujur, kreatif, dan bermakna.
Dalam Book Camp ini, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari Amanatia Junda, penulis buku Waktu Untuk Tidak Menikah dan Kepergian Kedua, yang juga editor fiksi Buku Mojok serta Co-founder Perkawanan Perempuan Menulis. Hadir pula Esti Nur, Relawan Literasi Masyarakat Kota Kediri dari Perpustakaan Nasional RI, yang turut berbagi pengalaman kepada para peserta.
Sebagai bahan pembelajaran, setiap peserta membawa buku bacaan masing-masing. Sementara itu, Disarpus Kota Kediri menyediakan buku Waktu Untuk Tidak Menikah karya Amanatia Junda sebagai referensi dalam menyusun cerpen.
Chevy berharap melalui kegiatan ini lahir karya-karya baru dari pegiat literasi sekaligus memperkuat jejaring antar komunitas di Kota Kediri.
“Targetnya setiap peserta menghasilkan karya tulis berupa cerpen serta mempererat jejaring dan kolaborasi antarpegiat literasi. Insyaallah hasilnya akan keren karena peserta dibimbing langsung oleh Mbak Natia yang merupakan editor tulisan fiksi Mojok,” katanya.
Salah satu peserta, Mashita, mengaku pengalaman yang paling berkesan adalah saat narasumber membagikan perjalanan mereka dalam dunia kepenulisan.
“Hal yang paling berkesan menurut saya adalah ketika fasilitator membagikan pengalamannya dalam menulis, yang sebagian besar ternyata juga saya alami,” ujarnya.
Peserta lainnya, Yayan Nurkasanah, juga mengaku memperoleh banyak wawasan baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya mendapatkan banyak insight baru tentang kepenulisan. Banyak belajar mendapatkan ide-ide sederhana yang ada di sekitar kita,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










