Kediri – Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, mengunjungi dua anak perempuan yang merupakan kakak dari korban dugaan kekerasan. Keduanya kini tengah dirawat di Yayasan Sahhala. Dalam kunjungan tersebut, wali kota tampak menghibur keduanya dengan mengajak bermain serta membawakan boneka, mainan, dan camilan agar anak-anak merasa lebih nyaman. Suasana hangat terlihat ketika kedua anak mulai tersenyum dan berinteraksi
Mbak Wali menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan, Pemerintah Kota Kediri akan memberikan pendampingan secara menyeluruh, baik dari sisi psikologis maupun kesehatan fisik korban. “Pemerintah kota sangat merasa prihatin terhadap kejadian ini. Ini termasuk kekerasan yang serius, di mana seharusnya anak-anak ini harus kita jaga dan rawat,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah yang dilakukan Pemkot meliputi pendampingan intensif oleh psikolog serta pemantauan kesehatan oleh Dinas Kesehatan. “Upaya kami yang pertama adalah melakukan pendampingan, kemudian pemulihan. Setiap hari nantinya psikolog akan mendampingi untuk memantau kondisi psikis anak-anak. Dari Dinkes juga siap turun untuk memantau kondisi kesehatan mereka, termasuk memberikan pengobatan atas luka-luka yang ada,” jelasnya.
Menurut Vinanda, lingkungan yayasan dinilai lebih aman dan membantu anak-anak untuk kembali bersosialisasi. “Di sini mereka mulai mau berbicara, bermain, dan berkenalan dengan teman-temannya. Harapannya mereka tidak merasa kesepian,” imbuhnya.
Selain itu, Pemkot Kediri juga akan membantu pengurusan dokumen administrasi serta terus berkoordinasi dengan keluarga terdekat korban. Sementara itu, Ketua Yayasan Sahhala, Ulya, menegaskan bahwa pihaknya menerima kedua anak tersebut atas dasar kemanusiaan dan akan memberikan pengasuhan penuh layaknya keluarga. “Kalau dipikir berat ya berat, tapi kami jalani dengan ringan. Ini atas dasar kemanusiaan, karena kalau mereka tetap di kondisi sebelumnya tentu kasihan secara psikis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, anak-anak di yayasan mendapatkan kebebasan untuk bermain dan berekspresi sebagai bagian dari proses pemulihan trauma. “Di sini anak-anak merdeka bermain, merdeka berkreasi, dan merdeka berekspresi, tapi tetap ada aturan. Kegiatannya banyak, seperti sekolah, mendongeng, berkebun, semua untuk menjaga kesehatan mental mereka,” jelas Ulya.
Menurutnya, pola pengasuhan di yayasan dilakukan secara kekeluargaan, mulai dari makan bersama hingga kegiatan harian yang melibatkan seluruh anak. “Kami mengasuh seperti keluarga. Apa yang mereka makan ya kami makan bersama, ada kegiatan bersama juga,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









