Kediri – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Kediri terus melakukan penataan kabel udara yang semrawut di sejumlah ruas jalan. Kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap hari dengan melibatkan seluruh provider yang beroperasi di wilayah Kota Kediri.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Kota Kediri, I Made Dwi Permana, mengatakan saat ini terdapat sekitar 18 provider yang beroperasi di Kota Kediri. Penataan kabel dilakukan secara terjadwal mulai Senin hingga Jumat, dengan pembagian tugas antar provider.
“Setiap hari kami jadwalkan sekitar empat sampai lima provider. Namun pada hari tertentu, seluruh provider ikut terlibat bersama-sama,” ujar Made saat dikonfirmasi Kamis (29/1).
Ia menjelaskan, hingga saat ini Pemkot Kediri belum menerbitkan izin pemasangan kabel maupun tiang telekomunikasi secara permanen, sehingga DPUPR hanya memberikan rekomendasi pemanfaatan ruang milik jalan. Rekomendasi tersebut diberikan per ruas jalan, bukan secara menyeluruh untuk satu provider di seluruh kota.
“Setiap provider berbeda cakupannya. Ada yang hanya di 10 ruas, ada yang 20 ruas, bahkan ada yang berbagi ruas dengan provider lain,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, DPUPR mengakui masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu kendala utama adalah kesulitan menandai kabel yang masih aktif dan yang sudah tidak digunakan.
“Dalam satu ruas bisa ada 50 sampai 60 kabel. Tim pemasang, tim perawatan, dan tim penataan dari provider itu orangnya berbeda-beda, sehingga sering tidak tahu kabel mana yang masih berfungsi,” ungkap Made.
Akibatnya, DPUPR bersama provider saat ini baru bisa melakukan perapian kabel, seperti menaikkan kabel ke posisi lebih rapi. Kabel yang sudah putus baru dapat dipotong, sementara kabel yang masih utuh belum bisa dipastikan fungsinya.
Untuk lokasi penataan, Made menyebut kegiatan dilakukan secara bertahap sesuai rute. “Mulai dari Jalan Brawijaya, lalu ke Jalan Monginsidi, Jalan Basuki Rahmat, dan hari ini di Jalan Soekarno. Rencananya besok bergeser ke Jalan Veteran,” katanya.
Setiap provider diwajibkan mengirim minimal dua personel, sehingga dalam satu hari terdapat sekitar 10 hingga 15 orang di lapangan. Namun, satu ruas jalan tidak selalu bisa diselesaikan dalam satu hari dan kerap dilanjutkan ke hari berikutnya.
“Untuk sementara, konsepnya masih perapian. Kabel dinaikkan, dan diikat lalu yang tidak dibutuhkan dipotong, sambil terus kami evaluasi,” pungkas Made. kin/mg









