Kediri – Cita rasa khas Jepang kini bisa dinikmati masyarakat Kediri lewat kue-kue lembut, detail, dan penuh seni di Toko Kue Aris Udagawa. Di balik produk otentik yang kini digemari itu, ada kisah panjang dan perjuangan dari sosok Ahmad Aris Chakim Batrud Taman, pria kelahiran 12 April 1979, yang menghabiskan lebih dari satu dekade hidupnya untuk belajar langsung di negeri sakura.
Aris memulai perjalanan kulinernya sejak menikah dan menetap di Jepang pada awal tahun 2000. Ia semula bekerja di restoran milik mertuanya yang menyajikan menu sushi. Dari sana, ia mulai tertarik pada dunia kuliner dan memutuskan untuk mendalami ilmu tata boga secara formal.
“Saya dulu awam soal tepung, soal teknik. Tapi mertua menyarankan belajar, bukan cuma kerja cari uang. Akhirnya saya kuliah di Vantan Lecon de Surprise di kawasan Daikan-Yama, Tokyo, mengambil jurusan café dan patisserie,” ujar Aris saat ditemui di tokonya.
Menjadi satu-satunya mahasiswa Asia Tenggara di sekolahnya, Aris harus berjuang lebih keras karena stigma buruk yang masih melekat saat itu. Ia kesulitan mendapatkan tempat magang karena citra orang Asia Tenggara yang dianggap kurang disiplin. Namun kerja keras dan kemampuannya beradaptasi mengantar Aris bekerja di berbagai restoran dan hotel ternama di Tokyo.
Ia memulai karier profesionalnya di sebuah restoran Italia, lalu lanjut ke bidang chocolatier di mana ia bisa masuk ke dapur hotel-hotel besar seperti Grand Hyatt dan The Peninsula Tokyo. Keahliannya semakin diasah ketika ia dipercaya bekerja di salah satu patisserie ternama di Tokyo yang dikenal sebagai tempat lahirnya chef-chef pastry berkelas dunia.
Pada 2014, Aris memutuskan kembali ke Indonesia dan membuka toko pertamanya di Jalan Panglima Sudirman, Kediri. Awalnya, tak banyak yang mengenal konsep cake khas Jepang. Namun, kabar baik datang dari komunitas Jepang di Indonesia. Seorang tetangga yang pernah studi di Belanda mengenalkan tokonya kepada kenalan asal Jepang, dan perlahan kabar tentang kue buatannya menyebar hingga Surabaya dan Jakarta.
“Pernah ada yang dari Jakarta langsung naik taksi ke Kediri cuma untuk beli kue, terus balik lagi. Dari situ pesanan mulai berdatangan, bahkan kami rutin PO untuk kirim ke Surabaya,” katanya.
Toko Kue Aris Udagawa menyajikan kue dengan teknik dan standar Jepang, namun tetap mengangkat cita rasa lokal. Salah satu produk unggulannya adalah Mont Blanc—kue khas Jepang yang terinspirasi dari pegunungan Eropa, namun diolah dengan bahan lokal seperti beton kluweh yang mirip dengan buah kuri (kastanye Jepang).
“Yang membedakan Japanese cake itu dari Eropa adalah teksturnya yang ringan dan lembut, teknik pembuatannya sangat presisi. Kalau Eropa banyak buttercream, kalau Jepang fokus pada sponge dan mousse yang balance dan tidak membuat enek,” jelas Aris.
Produk lain yang jadi favorit adalah Japanese Roll Cake yang dibuat dengan teknik suhu dan waktu yang sangat ketat. Aris menyebutkan, kue buatannya dibuat seminimal mungkin tanpa bahan kimia tambahan, mengandalkan ketepatan teknik dan insting.
Meski kini dibantu beberapa staf, Aris masih turun langsung dalam proses produksi, terutama untuk memastikan kualitas tetap terjaga. Ia pun terus membimbing staf dengan teliti agar filosofi keuletan dan teknik khas Jepang tetap menjadi roh dari setiap produk.
“Kalau mixer kena minyak sedikit saja, adonan sudah tidak bisa mengembang. Jadi harus tahu karakter bahan, suhu ruang, bahkan perasaan tubuh juga ikut bermain. Ini semua tidak bisa instan,” ujarnya.
Dengan semangat belajar dan ketekunan khas Jepang, Aris Udagawa telah menjelma menjadi pelopor Japanese Cake otentik di Kediri. Sebuah bukti bahwa dengan tekad dan kerja keras, cita rasa dunia bisa dihadirkan dari kota kecil. mg
There is no ads to display, Please add some









