Kediri – Upacara Manusuk Sima tidak hanya menjadi agenda tahunan Hari Jadi Kota Kediri, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan sejarah, memperkuat identitas budaya, sekaligus mengembangkan potensi wisata budaya.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, tahun ini prosesi Manusuk Sima kembali digelar di kawasan Tirtoyoso setelah tiga tahun terakhir dilaksanakan di halaman Balai Kota Kediri.
“Tahun ini merupakan momen yang istimewa karena setelah tiga tahun terakhir prosesi Manusuk Sima diselenggarakan di halaman Balai Kota Kediri, kini kembali lagi di kawasan Tirtoyoso. Hal ini bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki kedekatan yang erat dengan sejarah lahirnya Kota Kediri. Di sinilah jejak kawasan Kwak yang disebut dalam Prasasti Kwak kembali dihadirkan,” ujar Vinanda, Senin (27/7).
Menurutnya, pemindahan lokasi tersebut bertujuan agar masyarakat semakin dekat dengan akar sejarah Kota Kediri.
“Kembalinya prosesi Manusuk Sima ke kawasan ini merupakan ikhtiar untuk semakin mendekatkan masyarakat dengan akar sejarahnya. Agar generasi hari ini merasakan bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi juga harus dipelajari, dirawat, serta diwariskan,” imbuhnya.
Vinanda menambahkan, tema Hari Jadi Kota Kediri ke-1.147 yakni “Sinergi Lintas Generasi, Mengalir dengan Inovasi, Teguh dalam Tradisi” menjadi arah pembangunan Kota Kediri.
“Kemajuan kota hanya dapat diwujudkan apabila pengalaman dan nilai-nilai luhur dari generasi terdahulu berpadu dengan semangat, kreativitas, dan gagasan baru dari generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Direktur Direktorat Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan RI Dr. Agus Widiatmoko menilai Kota Kediri berhasil menghidupkan isi prasasti menjadi sebuah atraksi budaya.
“Saya yakin ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang memaknai, menafsirkan ulang, dan menginterpretasikan sebuah prasasti menjadi sebuah peristiwa. Biasanya prasasti hanya disimpan di museum, tetapi di Kota Kediri prasasti itu direkonstruksi menjadi peristiwa Manusuk Sima,” ujarnya.
Menurut Agus, konsep tersebut dikenal sebagai living museum.
“Dalam konteks pariwisata modern, ini disebut living museum. Kalau terus dikembangkan, saya yakin wisata budaya Kota Kediri akan memiliki daya tarik yang luar biasa,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










