Yuni Lestari, Sulap Gethuk Tradisional Jadi Dessert Modern Lewat GETHUKART

KEDIRI – Berawal dari mengikuti lomba kreasi makanan berbahan singkong di sekolah anaknya pada 2016, Yuni Lestari menemukan peluang usaha yang kini berkembang menjadi GETHUKART. Ia menyulap gethuk tradisional menjadi aneka dessert modern dengan bentuk unik dan beragam varian rasa.

Perempuan asal Pandaan, Pasuruan, ini mengawali usahanya secara sederhana dari rumah. Saat itu, Yuni diminta mewakili kelas anaknya untuk mengikuti lomba kreasi makanan berbahan singkong. Ia kemudian berpikir bagaimana menghadirkan olahan singkong yang berbeda dari biasanya.

Yuni akhirnya mendapat ide membuat gethuk berbentuk kue tart. Tanpa bekal pendidikan kuliner maupun pengalaman khusus membuat kue, ia belajar secara mandiri melalui YouTube. Teknik menghias kue tart yang dipelajarinya kemudian diterapkan pada gethuk berbahan dasar singkong.

Kreasinya berhasil meraih juara pertama. Dari sana, pesanan mulai berdatangan dari teman-teman sesama orang tua murid. Melihat respons tersebut, Yuni memutuskan mengembangkan kreasi gethuknya menjadi sebuah usaha.

Pada 2017, Yuni pindah ke Kediri dan melanjutkan bisnisnya dengan sistem made by order atau produksi berdasarkan pesanan. Seiring bertambahnya pelanggan, ia terus mengembangkan berbagai kreasi baru hingga akhirnya memberanikan diri membuka outlet GETHUKART pada 2026.

Nama GETHUKART dipilih seiring semakin beragamnya olahan yang dibuat. Tak hanya gethuk berbentuk tart, Yuni menghadirkan beragam kreasi, mulai dari gethuk klepon, gethuk gulung, gethuk onde-onde, gethuk fruit pie, gethuk lasagna, hingga gethuk cookies yang menjadi salah satu inovasi terbarunya.

Menariknya, seluruh kreasi tersebut tetap menggunakan gethuk berbahan dasar singkong tanpa campuran tepung. Yuni tidak menggunakan fondant untuk membentuk hiasan seperti pada kue tart pada umumnya. Ia justru mengandalkan olahan gethuk yang dibentuk dan dihias sedemikian rupa agar menghasilkan tampilan menarik.

Dalam proses pengembangan produknya, Yuni mengaku lebih banyak mengandalkan eksperimen. Ia mencoba menemukan takaran bahan yang tepat, termasuk memadukan singkong dengan cokelat, keju, dan buah-buahan untuk menghasilkan cita rasa yang sesuai.

“Menemukan takaran dan komposisinya itu yang susah. Kita harus eksperimen dan uji coba berkali-kali, tidak bisa satu kali langsung ketemu,” ungkap Yuni, Sabtu (10/10).

Salah satu inovasi terbarunya adalah gethuk cookies, perpaduan gethuk dan oatmeal yang tersedia dalam varian rasa cokelat serta green tea almond. Menurutnya, menemukan komposisi yang pas menjadi tantangan tersendiri karena setiap produk membutuhkan proses uji coba berulang kali.

Selain aneka kreasi gethuk, Yuni juga menghadirkan menu makanan dan minuman di outletnya, seperti nasi goreng simbok, kopi dari Jawa Tengah, serta sop empal khas Muntilan. Ide menghadirkan sop empal muncul karena suaminya berasal dari Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, yang juga dikenal dengan kuliner gethuknya.

Kehadiran outlet turut memperluas jangkauan pelanggan GETHUKART. Jika sebelumnya mayoritas pembeli berasal dari kalangan orang tua yang memesan secara daring, kini produknya mulai menarik perhatian anak muda.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Gethuk lindri dijual Rp4.000 per biji, gethuk klepon Rp5.000 untuk tiga biji, serta gethuk gulung dengan pilihan rasa abon, strawberry, kacang, keju, dan cokelat seharga Rp6.000 per biji. Sementara itu, gethuk onde-onde dibanderol Rp7.500 per biji, gethuk fruit pie Rp8.500 per biji, gethuk cookies Rp10.000 per biji, dan gethuk lasagna ukuran kecil Rp12.000 per cup.

Selain produk yang tersedia di outlet, Yuni juga tetap menerima pesanan khusus berupa gethuk tart untuk perayaan ulang tahun maupun gethuk tumpeng. Menariknya, seluruh bagian dari kreasi tersebut dibuat menggunakan gethuk, sehingga menjadi alternatif sajian perayaan yang unik dan berbeda dari kue tart maupun tumpeng pada umumnya.

Bagi Yuni, mengembangkan GETHUKART bukan sekadar menghadirkan makanan dengan tampilan berbeda. Ia ingin menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional seperti singkong bisa diolah menjadi produk kreatif yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan bahan dasarnya.

Dari sebuah lomba sederhana pada 2016, Yuni membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian mencoba hal baru dapat membuka jalan bagi tumbuhnya usaha kuliner. Melalui GETHUKART, ia terus bereksperimen menghadirkan inovasi agar olahan gethuk semakin dikenal dan diminati oleh berbagai generasi.

Leave a Comment