Kediri – Kuliner legendaris Soto Podjok di Kota Kediri terus bertahan di tengah gempuran tren makanan modern. Ada sejak tahun 1926, usaha soto ini kini telah memasuki generasi keempat dan tetap menjaga cita rasa khasnya.
Owner Soto Podjok, Nara Asoka Amijaya, menjelaskan bahwa usaha tersebut dirintis oleh Mbah Aminah sebagai generasi pertama. Kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua Mbah Rah, generasi ketiga Rumiani Raharjo, hingga kini dikelola oleh dirinya sebagai generasi keempat.
“Ini sudah empat generasi. Dari dulu sampai sekarang tetap mempertahankan rasa dan kualitas,” ujarnya.
Awalnya, Soto Podjok dijajakan secara keliling seperti pedagang pada umumnya. Baru sekitar tahun 1960–1970-an, usaha ini menetap di kawasan Jalan Dhoho, Kediri, yang kemudian dikenal hingga sekarang. Nama “Soto Podjok” sendiri muncul setelah menetap, merujuk pada lokasi berjualan di area pojok.
Dalam menjaga eksistensi lintas generasi, Nara mengakui tantangan pasti ada, terutama perbedaan zaman dan karakter konsumen. Namun, kunci utamanya adalah tetap adaptif terhadap perkembangan pasar tanpa meninggalkan identitas utama.
“Yang penting kita adaptif dengan pasar, tapi tidak memaksakan ikut tren viral. Soto ya tetap soto, yang penting kualitas dan pelayanan dijaga supaya pelanggan tetap loyal,” jelasnya.
Dari sisi produksi, proses memasak masih dilakukan secara sederhana tanpa modernisasi berlebihan. Namun, ada satu hal yang menjadi kunci utama, yakni bumbu racikan yang sudah dipatenkan sejak lama.
Bumbu tersebut diproduksi secara massal setiap enam bulan sekali, kemudian disimpan dan digunakan sebagai dasar masakan. Dengan sistem ini, cita rasa soto tetap terjaga meskipun dimasak oleh orang yang berbeda.
“Kalau core bumbunya sudah beres, ke depannya pasti konsisten. Tinggal kontrol bahan baku dan kualitas saja,” tambahnya.
Selain itu, saat ini juga mulai diterapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam proses memasak, sehingga rasa tetap sama meski terjadi pergantian juru masak.
Dari segi cita rasa, Soto Podjok memiliki karakter yang unik. Meski berada di Jawa Timur, kuahnya cenderung lebih ringan seperti soto khas Jawa Tengah, namun tetap kaya akan kaldu dan rempah.
Setiap harinya, Soto Podjok mampu menghabiskan puluhan ekor ayam kampung untuk memenuhi permintaan pelanggan. Menu ini juga dikenal ramah untuk semua usia, mulai dari balita hingga lansia.
“Banyak pelanggan bilang anak kecil yang susah makan justru suka soto di sini,” ungkapnya.
Keunikan lain yang tetap dipertahankan adalah penggunaan “kecap kocok”, tradisi yang sudah ada sejak generasi kedua. Meski awalnya tanpa alasan khusus, kini justru menjadi ciri khas sekaligus daya tarik tersendiri bagi pelanggan.
Hingga kini, Soto Podjok tetap menjadi salah satu kuliner legendaris Kediri yang tidak hanya bertahan, tetapi juga terus diminati berbagai kalangan. Dengan menjaga resep warisan dan beradaptasi secara bijak, usaha ini membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci utama keberlangsungan bisnis kuliner lintas generasi. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









