Kediri – Museum Airlangga Kota Kediri mulai jarang dikunjungi wisatawan. Juru Pelihara Museum, Yuni Suyanti menuturkan pengunjung yang datang tidak seramai sebelum masa Covid-19.
“Kalau anak-anak sekolah biasanya datang pas liburan, atau kegiatan tengah semester itu pun rombongan sama guru, sekarang sudah tidak seramai dulu. Setelah Covid-19, pengunjung makin berkurang. Dulu tiap Minggu ramai, sekarang paling ramai saat libur panjang,” jelasnya, Rabu (29/10).
Museum yang terletak di kompleks wisata Goa Selomangleng ini menyimpan ratusan koleksi bersejarah yang menjadi bukti peradaban kerajaan kuno di Kediri.
Koleksinya beragam mulai dari arca hingga miniatur. Kurang lebih 200 koleksi arkeologi dan etnografi terdapat di dalamnya. “Koleksi museum ini didominasi oleh arca dan prasasti bersejarah peninggalan masa Kerajaan Kediri, Singhasari hingga Majapahit,” katanya.
Dari sekitar 150 arca yang tersimpan banyak diantaranya ditemukan di wilayah Kediri dan sekitarnya. “Semuanya dari Kediri, dulu benda-benda ini sempat disimpan di alun-alun kemudian dipindahkan ke Kwak dan akhirnya ke sini,” ungkap perempuan yang bertahun-tahun merawat peninggalan bersejarah itu.
Salah satu koleksi istimewa museum ini adalah Jambangan Batu, peninggalan dari masa pemerintahan Raja Brameswara. Batu ini menjadi salah satu simbol penting masa klasik Kediri yang menunjukkan kemajuan peradaban Hindu di Jawa Timur.
Bagi Yuni, merawat ratusan benda purbakala bukan perkara mudah. Dahulu, sebelum koleksi dipindah ke dalam ruangan, banyak arca dan batu yang rusak akibat hujan dan lumut.
“Dulu itu semua masih di luar, jadi kehujanan dan berlumut. Sekarang sudah di dalam semua, jadi perawatannya lebih mudah,” katanya.
Pembersihan rutin dilakukannya satu hingga dua kali seminggu menggunakan kuas lembut atau alat sapu halus agar tidak merusak permukaan batu. Yuni berharap agar pemerintah lebih memperhatikan museum agar ke depan banyak pengunjung tertarik untuk datang ke museum.kin/mg










