Kediri – Revitalisasi Jembatan Brawijaya tidak hanya menghadirkan wajah baru infrastruktur penghubung Kota Kediri, tetapi juga menegaskan kembali identitas sejarah dan kebudayaan daerah melalui pemakaian aksara Jawa Kuno bergaya kwadrat yang kini terpampang di jembatan tersebut.
Tulisan aksara itu bukan sekadar ornamen estetika. Di dalamnya tersimpan makna filosofis dan historis yang merujuk pada perjalanan panjang Kediri sebagai salah satu pusat peradaban penting di Nusantara.
“Di dalam itu tulisannya ada Jojo ing Bojo yang berarti berjaya di atas marabahaya, kemudian ada Jer Basuki Mawa Beya, dan di ada Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa,” jelas Arkeolog Juan Steven Susilo saat dihubungi Senin (29/12).
Juan merupakan arkeolog yang ditunjuk untuk memberikan masukan akademik dan historis terkait penggunaan aksara pada revitalisasi Jembatan Brawijaya. I menjelaskan, pihaknya juga mengutip dari kakawin Nagarakretagama yang menyebut wilayah Daha, yang diyakini sebagai kawasan Kediri, sebagai daerah penting dalam struktur Kerajaan Majapahit. Kutipan tersebut juga tertulis di jembatan Brawijaya yakni “tara graha tekanan nagara sesaneka mukhyan daha” dengan arti dalam hal perbintangan dan planet-planet, memang kota-kota lainnya di wilayah itu cukup banyak jumlahnya, namun yang terpenting adalah kota Daha.
Dalam sastra tersebut, Daha digambarkan sebagai pusat yang dianalogikan seperti matahari, sementara wilayah lain diibaratkan planet-planet yang mengitarinya.
“Itu menunjukkan bahwa Daha atau Kediri memiliki posisi strategis dan istimewa pada masa kerajaan besar di Nusantara,” ujarnya.
Selain itu visi misi Walikota Vinanda Prameswati juga tertulis. “Membangun Kota Kediri Yang MAPAN” Kota yang Maju,Agamis, Produktif, Aman, Ngangeni.
Makna ini kemudian diterjemahkan secara simbolik melalui aksara kuno di Jembatan Brawijaya, sebagai pengingat bahwa Kediri bukan sekadar kota administratif, tetapi memiliki akar sejarah yang kuat dan berpengaruh.
Tulisan yang digunakan merupakan aksara Jawa Kuno bergaya kwadrat, yaitu jenis aksara yang memiliki karakter huruf timbul dan cenderung mengotak. Berbeda dengan kebanyakan prasasti kuno yang dipahat masuk ke permukaan batu, aksara kwadrat justru dibuat menonjol. Gaya ini, menurut Juan, sangat erat diasosiasikan dengan Kediri.
“Laporan penelitian Belanda mencatat bahwa aksara kwadrat pertama kali ditemukan di wilayah Kediri, tepatnya di Kabupaten Kediri. Salah satu buktinya bisa dilihat pada tinggalan di Goa Selomangleng,” katanya.
Meski aksara serupa juga ditemukan di Bali dan wilayah lain, Kediri dikenal luas sebagai pusat berkembangnya gaya penulisan tersebut sejak sekitar akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9 Masehi.kin/mg










