Hadapi Tekanan Ekonomi Global, BI Kediri Dorong Masyarakat Beralih dari Mode Bertahan ke Berinovasi

Kediri – Tekanan ekonomi global yang masih berlangsung hingga akhir 2026 dinilai menjadi tantangan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) Kediri mendorong masyarakat maupun pelaku UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mulai mencari terobosan dan berinovasi.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, Deasi Surya Andarina, mengatakan ketidakpastian ekonomi global masih cukup tinggi. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, suku bunga, hingga harga sejumlah kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, Bank Indonesia telah mengerahkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, kondisi ekonomi global yang dinamis membuat masyarakat dan pelaku usaha juga perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi ketidakpastian.

“Dari mode bertahan kita harus berubah menjadi mode mencari terobosan. Terobosan ini kreatif dan inovatif. Kita tidak bisa lagi bisnis as usual,” ujarnya.

Deasi mengatakan pelaku usaha perlu mulai memperluas pasar, termasuk memanfaatkan perdagangan elektronik hingga membuka peluang ekspor. Menurutnya, Kediri memiliki sejumlah potensi usaha yang masih dapat dikembangkan untuk menembus pasar yang lebih luas.

Ia menyebut pihaknya ke depan akan mendorong komunitas-komunitas usaha yang memiliki potensi ekspor agar dapat berkembang lebih besar.

“Harus punya metode yang extraordinary. Kita harus masuk pasar e-commerce, kita harus menerobos pasar ekspor,” katanya.

Selain mendorong inovasi, Deasi juga mengajak masyarakat menyesuaikan pola konsumsi dengan kondisi ekonomi saat ini. Salah satunya dengan lebih banyak menggunakan produk dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap produk impor dapat ditekan.

Menurutnya, perubahan gaya hidup tersebut bukan berarti menghilangkan konsumsi masyarakat, melainkan mengalihkan konsumsi ke produk lokal yang tetap mampu menggerakkan perekonomian dalam negeri.

“Downgrade lifestyle ini saya melihatnya dengan POV, ayo kita lebih banyak menggunakan produk-produk yang memang dari dalam negeri sendiri,” jelasnya.

Ia menilai konsumsi masyarakat tetap menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang perlu dijaga. Karena itu, masyarakat juga didorong tetap berbelanja di warung, UMKM, maupun usaha lokal yang berada di sekitar tempat tinggal.

“Menebar optimisme itu artinya kita sebagai individu tetap optimis. Misalnya ada gerakan membeli di warung tetangga sendiri atau di UMKM sekitar wilayah rumah. Itu untuk tetap bisa menghidupkan perekonomian di lingkungan kita,” ungkapnya.

Deasi juga menyoroti adanya perubahan pola konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Menurutnya, masyarakat dengan penghasilan menengah ke bawah cenderung mulai menurunkan gaya hidup, sementara kelompok berpenghasilan tinggi masih memiliki kemampuan untuk membelanjakan uangnya pada sektor hiburan, perjalanan, maupun kebutuhan lainnya.

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan konsumsi yang perlu menjadi perhatian ke depan.

“Yang berpenghasilan tinggi itu mungkin masih bisa diambil sebagai celah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Mereka masih bisa spending untuk hiburan, jalan-jalan, beli oleh-oleh, keliling Indonesia itu masih bisa,” tuturnya.

Di sisi lain, Deasi mengingatkan tantangan ekonomi ke depan masih penuh ketidakpastian. Selain tekanan ekonomi global, kondisi dalam negeri juga berpotensi menghadapi dampak perubahan cuaca dan distribusi pangan yang dapat memengaruhi harga komoditas.

Karena itu, ia menekankan pentingnya tiga hal yang dapat dilakukan masyarakat, yakni bertahan, melakukan inovasi atau terobosan, dan tetap menebar optimisme.

“Jadi kita tidak tahu harus survive sampai berapa lama. Kita harus punya sesuatu yang baru, bisa membuka lapangan usaha baru atau misalnya punya tambahan penghasilan baru,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Comment