KUD Tani Jaya Sawahan Madiun Bertahan 51 Tahun dengan Kemandirian Usaha, Kini Kelola Lima Unit Bisnis

KEDIRI – Koperasi Konsumen Unit Desa (KKUD) Tani Jaya di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, menjadi salah satu koperasi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri yang mampu bertahan dan berkembang dengan mengandalkan kemandirian usaha.

Berdiri sejak 1975, KUD Tani Jaya kini memiliki 715 anggota dan mempekerjakan sebanyak 32 karyawan. Koperasi ini mengelola lima unit usaha yang menjadi sumber pendapatan sekaligus menopang keberlangsungan koperasi.

Ketua KUD Tani Jaya, Suparno, mengatakan lima unit usaha tersebut meliputi unit simpan pinjam, pengadaan pupuk, penggilingan padi atau rice milling unit (RMU), perdagangan, serta unit layanan jasa.

“Unit usaha kami ada lima. Ada simpan pinjam, pengadaan pupuk, penggilingan padi atau RMU, perdagangan, dan layanan jasa,” ujar Suparno saat kesempatan kunjungan KpwBI Kediri bersama Media, Kamis (5/11/2011).

Pada unit penggilingan padi, KUD Tani Jaya memanfaatkan momentum musim panen dengan membeli gabah dari petani. Gabah kemudian dikeringkan, digiling, dikemas dalam ukuran 5 kilogram hingga 10 kilogram, sebelum dipasarkan melalui sejumlah toko.

Sementara pada unit perdagangan, KUD Tani Jaya saat ini memiliki empat pertokoan berukuran besar yang dikelola seperti jaringan toko modern. Pengelolaan masing-masing toko dilakukan dengan sistem pertanggungjawaban agar setiap unit mampu menghasilkan surplus.

“Dalam satu toko kami kalkulasi untung dan ruginya. Kepala toko bertanggung jawab, sehingga setiap toko harus surplus,” jelasnya.

Selain itu, koperasi juga menyediakan berbagai layanan jasa untuk masyarakat, mulai dari pembayaran listrik, telepon, PDAM hingga pembayaran pajak kendaraan.

Dari pengembangan berbagai lini usaha tersebut, KUD Tani Jaya mampu mencatat sisa hasil usaha (SHU) sekitar Rp1 miliar. Capaian itu menjadi salah satu indikator bahwa koperasi tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi memiliki sumber pendapatan dari usaha yang dikembangkan secara mandiri.

Manajer KUD Tani Jaya, Sarwana, mengatakan perjalanan koperasi hingga berkembang seperti sekarang tidak berlangsung instan. Awalnya, koperasi hanya memiliki dua rak toko di depan kasir. Dari keuntungan yang diperoleh, usaha kemudian dikembangkan secara bertahap hingga memiliki sejumlah unit bisnis.

“Dulu KUD kami kecil. Kami punya semangat untuk membuka usaha seperti penggilingan padi. Awalnya hanya dua rak toko di depan kasir, sedikit demi sedikit berkembang sampai seperti sekarang dan menuju lima toko,” kata Sarwana.

Menurutnya, kunci agar koperasi tetap bertahan adalah membangun kemandirian usaha. Koperasi harus mampu menciptakan sumber pendapatan sendiri sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada program pemerintah.

“Untuk tetap berdiri, KUD harus punya kemandirian usaha, tidak tergantung pada program pemerintah,” tegasnya.

Di sisi lain, kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi KUD Tani Jaya. Suparno menyebut sejumlah komoditas bersubsidi, seperti pupuk, ke depan berpotensi menjadi bagian dari pengelolaan KDMP. Namun, menurutnya, skema tersebut masih dalam tahap uji coba sehingga belum seluruh komoditas terdampak.

Karena itu, KUD Tani Jaya memilih untuk tidak hanya bergantung pada komoditas bersubsidi. Koperasi juga mendorong pengembangan usaha di luar program subsidi sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan KDMP.

“Kalau barang subsidi memang untuk KDMP, kita kembangkan usaha di luar subsidi. Kita harus berkolaborasi dengan KDMP. Kita bisa menjadi distributor untuk barang-barang tertentu untuk KDMP,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Comment