Kediri – Kinerja ekonomi wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Kediri pada 2025 tercatat tumbuh 4,31 persen (year on year/yoy), melambat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 4,39 persen (yoy). Meski melambat, kondisi ekonomi dinilai tetap kuat dengan sejumlah sektor penopang utama.
Dalam paparan BI, pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah kerja tercatat di Pacitan, sementara Kota Kediri menjadi daerah dengan pertumbuhan terendah.
Secara struktur, ekonomi Kediri masih ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, seiring meningkatnya aktivitas restoran, kafe, dan usaha kuliner. Namun demikian, capaian pertumbuhan tersebut masih berada di bawah tingkat nasional dan Provinsi Jawa Timur yang masing-masing tumbuh sekitar 5,11 persen dan 5,33 persen (yoy).
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap mendominasi kontribusi ekonomi, disusul sektor perdagangan dan pertanian. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan, di tengah penurunan konsumsi pemerintah pasca normalisasi belanja tahun politik 2024. Investasi tercatat tumbuh moderat, dipengaruhi aktivitas konstruksi yang belum sekuat tahun sebelumnya.
Menanggapi kondisi tersebut, BI Kediri juga memberikan rekomendasi strategis kepada pemerintah daerah, khususnya Pemkot Kediri, dengan mempertimbangkan keterbatasan wilayah kota.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, Deasi Surya Andarina, menjelaskan bahwa karakteristik Kota Kediri yang memiliki luasan kecil hanya terdiri dari tiga kecamatan membatasi pengembangan sektor berbasis lahan seperti pertanian dan industri besar.
“Diskusi dengan pemerintah daerah, kami memberikan rekomendasi. Karena Kediri ini wilayahnya kecil, hanya tiga kecamatan. Mau pertanian juga tidak bisa, ekstensifikasi terbatas. Bangun industri atau pabrik juga tidak memungkinkan karena lahannya tidak ada,” ujarnya.
Sebagai solusi, BI mendorong penerapan konsep economic crowd, yakni menghadirkan pergerakan orang dan aktivitas ke dalam kota untuk mendorong ekonomi berbasis jasa.
“Jadi salah satu yang bisa dilakukan di Kota Kediri adalah membangun economic crowd, atau mendatangkan orang ke dalam kota,” jelasnya.
Konsep ini dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan event secara rutin dan berskala nasional, seperti kegiatan olahraga, konser, hingga pertemuan akademisi dan perbankan.
“Kalau dalam satu bulan ada satu event nasional saja, itu bisa mendatangkan lebih dari 100 orang. Dampaknya besar, multiplier effect-nya ke hotel, restoran, dan transportasi cukup signifikan,” imbuhnya.
Selain itu, pengembangan sektor MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) dinilai sangat potensial untuk Kota Kediri, sebagai kota dengan karakter jasa dan perdagangan.
Dengan strategi tersebut, BI berharap Kota Kediri mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah keterbatasan lahan, dengan mengoptimalkan sektor jasa dan aktivitas berbasis keramaian sebagai penggerak utama ekonomi. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









