Kediri – Keluarga Firman Nugraha memilih menahan emosi dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan insiden tendangan kungfu yang menimpa putra mereka kepada Komite Disiplin PSSI Jawa Timur. Mereka berharap PSSI dapat bersikap tegas dan adil dalam memberikan sanksi atas kejadian tersebut.
“Soal sanksi, siapa pun yang berwenang, kami serahkan sepenuhnya. Harapan kami PSSI bisa memberikan keputusan yang terbaik dan seadil-adilnya,” ujar Sugeng Riyadi, ayah Firman, saat ditemui di rumahnya Kamis (8/1).
Insiden itu terjadi dalam pertandingan babak 32 besar Liga 4 Indonesia Zona Jawa Timur antara PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung, di Bangkalan Madura pada Senin (5/1).
“Semoga PSSI mengeluarkan kebijakan yang baik, saat saya lihat di media juga katanya di skors seumur hidup tidak boleh main sepak bola, tapi saya hanya berharap yang terbaik,” imbuhnya.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Firman mengalami retak tulang rusuk dan harus menjalani masa pemulihan, termasuk istirahat dari aktivitas sepak bola selama beberapa waktu.
Sugeng menegaskan, pihak keluarga tidak ingin bersikap berlebihan atau emosional. Namun, ia berharap kejadian seperti ini menjadi perhatian serius bagi PSSI agar tidak terulang di kemudian hari.
“Kejadian seperti ini bisa berbahaya. Sepak bola itu olahraga, bukan untuk mencederai. Harapan saya PSSI mengeluarkan kebijakan baik. Kalau masalah lainnya saya serahkan ke klub,” ujarnya.
Ia juga berharap sanksi yang dijatuhkan, jika memang diperlukan, tidak hanya bersifat hukuman, tetapi juga menjadi pembelajaran bagi seluruh pemain agar menjunjung tinggi sportivitas di lapangan.
“Harapan kami sederhana. Ada keadilan dan kejadian seperti ini tidak terjadi lagi pada pemain lain,” pungkas Sugeng.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









