Kediri – Petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo yang berada di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu situs bersejarah dan spiritual yang hingga kini ramai diziarahi masyarakat. Lokasi ini diyakini sebagai tempat lahir hingga muksa (menghilang tanpa jasad) sang raja besar Kediri yang dikenal dengan ramalan legendarisnya, Jangka Jayabaya.
Menurut juru kunci petilasan, Mukri, terdapat tiga titik utama di kawasan ini. Pertama, Loka Mahkota sebagai tempat Prabu Joyoboyo melepas mahkota, kedua Loka Busana tempat beliau menanggalkan busana kerajaan, dan terakhir Loka Moksa sebagai titik muksa. “Semua yang menempel pada dirinya ditinggalkan. Seperti raja meninggalkan semua dengan ikhlas,” jelas Mukri pada Selasa (23/9).
Tradisi berdoa di petilasan ini dilakukan dengan penuh tata krama. Peziarah biasanya membawa bunga serta dupa atau kemenyan sebagai sarana penghormatan. Mereka datang dengan tujuan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, melalui perantara doa restu Prabu Joyoboyo. Malam Jumat Legi menjadi waktu yang dianggap istimewa, di mana banyak peziarah, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat, datang untuk berdoa.
Petilasan ini awalnya hanya berupa pamuksan sederhana yang dianggap sebagai makam. Tahun 1860, tempat ini sudah dikenal masyarakat dan dijuluki Mbah Ageng Joyoboyo. Kemudian, pada 1972, Yayasan Hondodento dari Yogyakarta mendapat kepercayaan untuk membangun kawasan petilasan, hingga akhirnya rampung pada 17 April 1976.
Prabu Joyoboyo sendiri dikenal sebagai raja yang adil, mengutamakan kemakmuran rakyat, dan diyakini sebagai titisan Wisnu. Ramalannya, Jangka Jayabaya, hingga kini masih menjadi bagian dari keyakinan masyarakat Jawa. “Beliau dituakan, bahkan dianggap sebagai sosok linuwih. Karena itulah hingga sekarang masyarakat masih percaya dan datang untuk ngalap berkah,” tambah Mukri.
Selain ziarah harian, setiap 1 Suro diadakan upacara khusus sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat sejarah bagi generasi penerus. Prosesi biasanya dilakukan dengan kirab dari Balai Desa menuju petilasan, diikuti ratusan peserta, termasuk pelajar. Mereka membawa bunga untuk kemudian ditabur di area petilasan sebagai simbol penghormatan.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Mustika, menegaskan bahwa keberadaan petilasan dan agenda ritual tahunan Sri Aji Joyoboyo merupakan salah satu warisan budaya yang harus terus dijaga. “Petilasan dan agenda tahunan ritual Sri Aji Joyoboyo adalah salah satu budaya di Kediri yang harus kita lestarikan. Itu sudah terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal di Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2021,” ujarnya.
Kini, Petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo bukan hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga destinasi budaya dan sejarah yang mengingatkan masyarakat akan kejayaan masa lalu Kediri sekaligus pesan kebijaksanaan sang raja. kin/mg










