Kediri – Pemerintah Kota Kediri meluncurkan program English Day dan Dinten Jawi untuk membiasakan siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) menggunakan bahasa Inggris sekaligus melestarikan bahasa Jawa di SMPN 6 Kota Kediri, Selasa (26/10).
Program tersebut menjadi upaya membangun keterampilan komunikasi generasi muda tanpa meninggalkan bahasa dan budaya daerah. Melalui pembiasaan di lingkungan sekolah, siswa diharapkan lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris serta memahami tata krama melalui penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, kemampuan bahasa Inggris penting untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi persaingan global. Namun, penguasaan bahasa asing juga harus diimbangi dengan pelestarian bahasa daerah.
“Jangan sampai kita justru melupakan bahasa dan budaya sendiri. Bahasa Jawa juga harus terus kita kenalkan dan biasakan. Karena melalui bahasa Jawa, anak-anak belajar tentang unggah-ungguh, tata krama, serta bagaimana menghormati orang lain, terutama orang yang lebih tua,” ujarnya.
Vinanda berharap siswa terbiasa menggunakan ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris, seperti good morning dan thank you, sekaligus akrab dengan ungkapan bahasa Jawa, seperti mohon sewu, monggo, dan matur nuwun.
Menurutnya, pembelajaran bahasa harus dilakukan melalui praktik langsung. Siswa tidak harus langsung lancar, tetapi perlu diberikan kesempatan untuk mencoba tanpa takut melakukan kesalahan.
Ia juga meminta para guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar kepercayaan diri siswa tumbuh. Guru diharapkan tidak mengejek ketika siswa melakukan kesalahan pengucapan, melainkan memberikan pendampingan agar mereka terus berani berlatih.
“Saya berharap pembelajaran ini menjadi ruang yang menyenangkan bagi anak-anak untuk lebih aktif berlatih. Tidak harus lancar, tidak perlu takut salah, yang penting mereka berani mencoba dan mau terus belajar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Mandung Sulaksono menjelaskan, program tersebut ditujukan bagi sekolah negeri maupun swasta di jenjang SD dan SMP. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing lembaga pendidikan.
Ia mengatakan, English Day diharapkan membantu mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global. Adapun Dinten Jawi menjadi sarana untuk menjaga agar bahasa Jawa tetap digunakan dan dipahami oleh generasi muda.
“Untuk bahasa Inggris, bagaimana anak-anak kita nanti bisa terbantu menghadapi tantangan global. Sedangkan untuk bahasa Jawa, kita ingin nguri-uri bahasa Jawa, jangan sampai meninggalkan budaya atau bahasa sendiri sehingga generasi kita tidak memahami bahasanya sendiri,” jelasnya.
Kepala SMP Negeri 6 Kota Kediri, Budi Pramono, menyambut baik peluncuran program tersebut. Menurutnya, kemampuan berbahasa merupakan keterampilan yang perlu dibangun melalui pembiasaan secara konsisten.
Di SMP Negeri 6, pembiasaan bahasa Inggris telah diterapkan melalui program Sepina English Habit. Setiap Selasa dan Rabu pagi, siswa menghafalkan 10 kosakata bahasa Inggris per hari. Selanjutnya, hafalan tersebut disetorkan pada Kamis.
Sekolah juga mengadakan English Battle setiap akhir bulan. Dalam kegiatan ini, siswa berlatih secara berpasangan, dengan satu siswa menyampaikan kata atau kalimat dalam bahasa Inggris dan siswa lainnya menyimak atau menyebutkan padanannya dalam bahasa Indonesia.
Kegiatan tersebut tidak menjadi bagian dari penilaian akademik, tetapi dikemas dalam bentuk perlombaan untuk memotivasi siswa. Sekolah akan melihat kelas yang paling baik dalam mengikuti pembiasaan tersebut.
Sementara melalui Dinten Jawi, SMP Negeri 6 berharap penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar semakin terbiasa dalam interaksi sehari-hari, baik antarsiswa maupun antara siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Budi menilai pembiasaan tersebut penting untuk meningkatkan kesantunan dan budi pekerti siswa. Ia memperkirakan masih banyak siswa yang belum terbiasa menggunakan bahasa Jawa sesuai unggah-ungguh.
“Harapan kami, melalui pembiasaan ini anak-anak bisa belajar menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar, sehingga tata krama dan budi pekertinya juga semakin baik,” pungkasnya.
