Peduli Nasib Petani, Perempuan Muda di Kediri Ciptakan TruckPool untuk Tekan Biaya Angkut Panen

Kediri – Kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi petani mendorong Jesselyn Michelle Setiobudi menghadirkan inovasi di bidang logistik pertanian. Perempuan muda ini mengembangkan TruckPool, sebuah platform digital yang memungkinkan petani menggabungkan hasil panen dalam satu armada truk untuk menekan biaya pengangkutan.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan biaya logistik yang kerap membebani petani, terutama mereka yang memiliki hasil panen dalam jumlah kecil. Ketika muatan belum memenuhi kapasitas satu truk, petani harus menanggung biaya transportasi yang relatif lebih tinggi karena ongkos kendaraan dibebankan pada hasil panen yang terbatas.

Melalui platform truckpool.online, Jesselyn menawarkan sistem pengangkutan gabungan yang mempertemukan kebutuhan petani dengan pemilik armada. Muatan dari sejumlah titik penjemputan dapat digabungkan selama memiliki arah pengiriman yang sama, sehingga kapasitas truk dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

“TruckPool adalah sebuah aplikasi logistik yang dapat menggabungkan muatan, misalnya padi dari beberapa titik secara gabungan yang dalam rute searah yang efisien,” kata Jesselyn.

Melalui inovasi ini, petani yang hanya memiliki satu hingga dua ton hasil panen tetap berpeluang menggunakan armada truk tanpa harus menyewa kendaraan secara mandiri. Sistem TruckPool membantu mengelompokkan muatan berdasarkan berat, lokasi penjemputan, kapasitas kendaraan, dan tujuan pengiriman.

Untuk menggunakan layanan tersebut, petani terlebih dahulu melakukan registrasi melalui aplikasi. Mereka kemudian memasukkan informasi berat padi yang akan diangkut beserta titik koordinat penjemputan. Data tersebut diproses oleh sistem untuk menentukan kelompok muatan, jadwal penjemputan, dan rute perjalanan.

“Petani dapat registrasi ke aplikasi Truckpool dan memasukkan berat padi yang diinginkan dan titik koordinat titik jemputan, setelah itu sistem akan mengumumkan penjemputan dan grup dan rute,” jelasnya.

Jesselyn menjelaskan, penggabungan muatan dilakukan dengan mempertimbangkan jarak antartitik dan arah tujuan pengiriman. Saat ini, jarak antartitik dapat mencapai sekitar tiga kilometer. Namun, ia mendorong keterlibatan kelompok tani agar lokasi penjemputan bisa semakin berdekatan dan proses pengangkutan menjadi lebih efisien.

“Beberapa titik akan digabungkan sesuai dengan jarak yang tidak lebih dari 3 kilometer, titik yang terpencar tetapi masih searah tujuan dari titik pertama yang terjauh menuju titik tujuan yaitu pabrik. Namun demikian, kami berupaya untuk sosialisasi kepada kelompok tani sehingga diharapkan titik scattering-nya lebih kecil dari 3 kilometer,” terangnya.

Dalam pelaksanaannya, truk akan mengambil muatan dari titik terjauh terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya yang semakin mendekati lokasi tujuan. Pola tersebut dirancang untuk mengoptimalkan rute sekaligus mengurangi biaya pengangkutan per kilogram hasil panen.

“Truk akan muat pertama adalah titik terjauh lalu titik kedua dan seterusnya makin menuju titik tujuan,” imbuhnya.

Untuk perhitungan tarif, TruckPool mengombinasikan berat muatan dengan jumlah titik penjemputan. Besaran biaya bergantung pada bagaimana kapasitas kendaraan dapat dimanfaatkan dalam satu perjalanan.

Jesselyn memberikan ilustrasi, biaya angkut sebesar Rp 1 juta untuk muatan 10 ton setara dengan Rp 100 per kilogram. Sementara itu, biaya yang sama untuk mengangkut dua ton mencapai Rp 500 per kilogram.

“Potensinya tergantung dari dekatnya berat muatan ke berat maksimal per truk,” ujarnya.

Menurut Jesselyn, persoalan muatan yang tidak memenuhi kapasitas truk memang menjadi tantangan bagi petani. Dedy Roma, salah satu perwakilan petani, mengatakan selama ini hasil panen dari setiap titik biasanya dikumpulkan terlebih dahulu ke gudang pengepul menggunakan kendaraan berukuran lebih kecil sebelum diangkut kembali ke tujuan akhir.

“Panen masing-masing titik dikumpulkan dahulu ke gudang pengepul dengan pickup kecil masing-masing sehingga dua kali kerja,” kata Dedy.

Ia menilai konsep penggabungan muatan yang ditawarkan TruckPool dapat membantu memangkas tahapan pengangkutan sekaligus memudahkan petani mendapatkan armada.

“Sangat membantu, dahulu lebih sulit mencari truk dan mencari ‘gabungan’,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Sirun, perwakilan petani lainnya. Menurutnya, biaya angkut yang tinggi dapat mengurangi keuntungan petani ketika hasil panen belum memenuhi kapasitas optimal satu truk. Karena itu, sistem penggabungan muatan dinilai relevan, terutama bagi petani berlahan kecil.

“Ya, jika hasil panen dari petani itu di bawah angka muatan optimum, petani akan berkurang kesejahteraannya karena keuntungan kesannya minim. Harga pokok penjualan penggilingan padi akan naik banyak, jadi aplikasi ini sangat membantu pada umumnya petani-petani kecil di Indonesia yang memiliki lahan kurang dari satu hektare atau kurang dari 10 ton per truk,” jelas Sirun.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Jesselyn tidak hanya mengembangkan layanan bagi petani, tetapi juga membuka kesempatan bagi pemilik truk untuk bergabung sebagai mitra TruckPool. Melalui sistem ini, pemilik armada diharapkan memperoleh peluang muatan secara lebih rutin tanpa harus terus-menerus mencari pelanggan sendiri.

“Kami membuka kesempatan untuk mitra truck owner untuk mendaftarkan truck-nya. Pemakai aplikasi ini, owner truck, diharapkan tidak repot mencari muatan dan bisa rutin mendapatkan muatan,” ujar Jesselyn.

Ia juga mendorong kelompok tani berperan dalam mengoordinasikan waktu panen, titik penjemputan, dan tujuan pengiriman. Keseragaman jadwal serta koordinasi antarp petani dinilai dapat membantu mempercepat proses pengangkutan.

“Kesegeraan dalam pengangkutan dan dengan adanya kelompok tani ini diharapkan dapat sosialisasi per wilayah untuk keseragaman waktu panen dan tempat tujuan di pabrik penggilingan padi,” jelasnya.

Ke depan, Jesselyn berharap TruckPool dapat membantu menciptakan sistem logistik pertanian yang lebih efisien. Penurunan biaya pengangkutan diharapkan memberikan dampak berantai terhadap biaya penggilingan dan distribusi beras, meskipun harga akhir tetap dipengaruhi berbagai faktor dalam rantai pasok.

“Kita berharap adanya efisiensi dalam logistic cost sehingga berdampak domino terhadap penurunan harga beli gabah dari petani karena adanya efisiensi ongkir, penurunan HPP beras yang dihasilkan dan niscaya harga jual menjadi yang terbaik,” pungkas Jesselyn.

Melalui TruckPool, Jesselyn berupaya menghadirkan solusi digital yang menjawab persoalan nyata di sektor pertanian. Inovasi ini diharapkan dapat membantu petani menekan biaya logistik, sekaligus memberikan peluang bagi pemilik truk dan pengemudi untuk memperoleh muatan secara lebih terorganisasi. Kolaborasi antara petani, kelompok tani, dan mitra armada menjadi bagian penting agar layanan tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Related posts

Leave a Comment