Kediri – Hampir lebih dari 2 dekade mengabdi di balik layar Stadion Brawijaya Kediri, Sugiono menjadi saksi hidup perjalanan panjang Persik Kediri.
Ia mulai terlibat langsung di Stadion Brawijaya sejak tahun 2021 sebagai bagian perawatan Stadion Brawijaya Kediri. Namun keterikatannya dengan dunia sepak bola Kediri jauh lebih lama. Pak Gik, sapaan akrabnya, tercatat pernah bergabung sebagai kitman Persik Kediri pada tahun 2000–2001, saat klub masih berjuang di Divisi 2 Liga Indonesia (Liga 3).
Pengalaman Pak Gik mendampingi Persik memang terbilang panjang. Ia merasakan atmosfer klub saat masih berlaga di Divisi 3, Divisi 2, Divisi 1, hingga Divisi Utama. Masa keemasan Persik Kediri pada rentang 2003–2006 menjadi kenangan yang paling membekas.
“Waktu itu euforianya luar biasa. Jam 12 siang stadion sudah penuh, padahal pertandingan sore. Itu masa yang tidak bisa dilupakan,” kenangnya, Senin (12/1/2026).
Di tahun 2021 ia ditugaskan secara resmi oleh Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Kota Kediri untuk fokus dalam hal perawatan stadion. Pak Gik akhirnya mengundurkan diri sebagai kitman, meski demikian, ikatan emosionalnya dengan Persik Kediri tak pernah putus.
“Secara tidak langsung saya masih dipercaya membantu Persik sampai sekarang. Di belakang layar, di belakang lapangan. Termasuk support doa,” ujar pria kelahiran 7 April 1973 itu,
Bertugas merawat stadion Brawijaya, Sugiono memahami betul tanggung jawab besar Stadion Brawijaya yang kini menjadi venue Super League (Liga 1). Persiapan pertandingan dilakukan dengan sangat serius, mulai dari perawatan rumput setiap hari, kebersihan area stadion, kesiapan tribun, hingga pengecekan fasilitas penunjang menjelang official training H-1.
“Lapangan harus benar-benar fit. Bahkan H-1 sebelum pertandingan kami sering tidur di stadion. Itu sudah biasa,” ujarnya.
Ia juga menceritakan perubahan fungsi stadion dari masa ke masa. Dulu, Stadion Brawijaya terbuka untuk umum dipakai senam massal, sekolah sepak bola, hingga kegiatan masyarakat. Kini, seiring regulasi dan profesionalisme kompetisi, stadion lebih difokuskan untuk kebutuhan atlet dan pertandingan resmi.
Sugiono, yang sejak kecil menjadi pecinta sepak bola, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari sejarah Stadion Brawijaya. Baginya, stadion bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah kedua yang telah ia jaga dengan dedikasi selama lebih dari dua dekade.
“Stadion ini hidup. Dan kami yang di belakang layar bertugas memastikan semuanya siap, demi sepak bola Kediri,” pungkasnya. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









