Kediri – Ribuan santri Lirboyo mengikuti pelatihan literasi keuangan syariah yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) di Pondok Pesantren Lirboyo pada Selasa (14/4).
Kegiatan ini tak hanya membekali pemahaman pengelolaan keuangan, tetapi juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya penipuan, investasi ilegal, hingga pinjaman daring ilegal yang kian menyasar kalangan muda, termasuk santri.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan syariah menjadi langkah strategis untuk melindungi masyarakat dari risiko kejahatan finansial. “Santri memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di masyarakat. Melalui program SAKINAH, kami berharap para santri tidak hanya memahami konsep keuangan syariah, tetapi juga mampu menyebarluaskan edukasi ini kepada lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, OJK menekankan sejumlah modus penipuan yang perlu diwaspadai, seperti tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat tanpa risiko, penggunaan nama tokoh atau lembaga untuk menarik kepercayaan, serta layanan pinjaman online ilegal dengan proses pencairan instan namun tanpa transparansi.
Selain itu, santri juga diingatkan terkait ancaman kejahatan siber seperti pencurian data pribadi hingga penyalahgunaan kode OTP. Edukasi ini dinilai penting agar santri tidak mudah terjebak dalam praktik keuangan ilegal yang merugikan.
OJK juga memaparkan bahwa berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan syariah mengalami peningkatan. Namun, tingkat inklusi yang belum optimal menjadi celah yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan keuangan.
“Tantangan utama yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana menjadikan keuangan syariah sebagai pilihan utama masyarakat. Selain itu, akses yang belum merata dan inovasi produk yang belum sepenuhnya sesuai kebutuhan juga menjadi perhatian kami,” tambah Ismirani.
Melalui pelatihan ini, para santri dibekali kemampuan dasar dalam mengelola keuangan, mulai dari menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga menyisihkan dana untuk tabungan dan investasi. Bekal tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan finansial sekaligus meminimalkan risiko menjadi korban penipuan.
Menutup kegiatan, OJK Kediri berharap para santri dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarkan literasi keuangan sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan finansial.
“Kami ingin mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cakap dalam mengelola keuangan. Dengan demikian, mereka dapat mengambil keputusan finansial yang bijak dan terhindar dari berbagai risiko keuangan,” kata Ismirani. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









