Kediri – Memasuki pekan awal Ramadan, aktivitas jasa penukaran uang mulai bermunculan di sejumlah titik jalan protokol. Meski demikian, para pelaku usaha mengaku kondisi tahun ini tidak semaksimal tahun lalu karena faktor cuaca dan kenaikan harga.
Doris, penyedia jasa penukaran uang asal pesantren yang membuka lapak di Jalan PK Bangsa, mengungkapkan bahwa tahun lalu ia sudah membuka jasa penukaran sejak tiga hari awal puasa. Namun tahun ini, tingginya harga uang pecahan serta hujan yang sering turun membuat aktivitas belum terlalu ramai.
“Saya mulai buka dari jam delapan pagi sampai sore. Karena kami pengecer, beli uang dari pengepul. Tahun ini rata-rata naik, ada yang 10 persen sampai 11 persen per seratus ribu,” ujarnya Rabu (4/3).
Menurut Doris, tarif penukaran biasanya akan terus naik mendekati Hari Raya Idulfitri, terutama kurang dari sepekan sebelum Lebaran. Puncak keramaian diperkirakan terjadi pada H-3 Lebaran. “Kalau ramai, omzet bisa sampai lima sampai tujuh juta rupiah,” tambahnya.
Sementara itu, Yudi, penyedia jasa penukaran uang di kawasan Bandar Lor yang membuka lapak di Jalan Sudanco Supriadi, menyebut tren serupa juga terjadi di wilayahnya. Saat ini Ramadan telah memasuki sekitar satu minggu, dan tarif penukaran sudah mulai merangkak naik.
“Sekarang masih sekitar Rp15 ribu, nanti mendekati Lebaran bisa sampai Rp20 ribu. Kalau sudah H-10 Lebaran, omzet bisa tembus Rp10 juta,” jelas Yudi.
Yudi menambahkan, dirinya mendapatkan pasokan uang dari pengepul dan melayani penukaran untuk banyak wilayah mulai Kedii, Tulungagung hingga Blitar. Ia juga menilai jumlah penyedia jasa penukaran uang tahun ini semakin banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu jarang orang buka, sekarang banyak sekali. Persaingan juga makin ketat,” pungkasnya.
There is no ads to display, Please add some









