Kediri – Tradisi Jamasan Arca Totok Kerot kembali digelar di Situs Totok Kerot, Kabupaten Kediri, sebagai bagian dari peringatan bulan Suro sekaligus menyambut Tahun Baru Jawa. Kegiatan yang memasuki tahun kedua ini merupakan inisiatif para juru pelihara cagar budaya dan mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri.
Kabid Sejarah dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priyatno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap pelestarian cagar budaya, sekaligus sarana refleksi dan ungkapan syukur memasuki tahun baru Jawa.
“Ini adalah salah satu bentuk inisiatif dari teman-teman juru pelihara cagar budaya. Tahun ini menjadi pelaksanaan yang kedua. Momentum bulan Suro dimanfaatkan untuk melakukan jamasan atau perawatan cagar budaya sekaligus sebagai wujud rasa syukur menyambut Tahun Baru Jawa dan memohon keselamatan serta kelancaran di tahun yang baru,” ujar Eko pada Kamis (9/7).
Ia menjelaskan, proses jamasan dilakukan sesuai kaidah konservasi benda cagar budaya. Arca dibersihkan hanya menggunakan air dan sikat berbulu halus tanpa tambahan bahan kimia apa pun agar tidak merusak permukaan batu.
“Perawatan cagar budaya memang tidak diperkenankan menggunakan cairan apa pun selain air. Tidak boleh memakai sabun ataupun bahan lainnya. Sikat yang digunakan juga khusus, bukan sikat kawat ataupun plastik keras. Teman-teman juru pelihara sudah memahami teknik perawatan tersebut,” jelasnya.
Selain prosesi selamatan, kegiatan juga diisi dengan pembersihan arca secara simbolis yang kemudian dilanjutkan bersama-sama oleh para juru pelihara dan masyarakat yang hadir. Menurut Eko, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya.
Ia menegaskan, jamasan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan benda cagar budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
“Melalui jamasan kita merawat cagar budayanya, sedangkan selamatan menjadi bentuk introspeksi sekaligus mengingat leluhur yang telah mewariskan banyak hal. Yang kita cari bukan kejayaan masa lalu, tetapi piwulang atau ajaran leluhur tentang kebaikan dan gotong royong yang harus terus dijaga bersama,” katanya.
Dalam rangkaian acara tersebut, panitia juga membacakan legenda Totok Kerot. Eko menjelaskan, kisah rakyat tersebut tetap disampaikan berdampingan dengan penjelasan ilmiah mengenai arca.
“Kalau secara arkeologi, benda ini merupakan arca Dwarapala. Namun masyarakat juga mengenalnya sebagai Totok Kerot karena adanya legenda yang berkembang turun-temurun,” pungkasnya.
There is no ads to display, Please add some










