Kediri – Aroma santan dan gula aren yang khas masih setia menyambut pembeli di salah satu sudut Pasar Pahing, Kota Kediri. Selama puluhan tahun, Bubur Madura milik Siti Kotijah (64) tetap menjadi incaran pelanggan karena mempertahankan cita rasa autentik sejak pertama kali berjualan pada 1975.
Siti bercerita, dirinya berasal dari keluarga asli Madura. Sang ibu lebih dulu berjualan bubur Madura sebelum akhirnya keluarga merantau ke Kediri. Sejak saat itu, ia diminta meneruskan usaha keluarga di Pasar Pahing hingga bertahan lebih dari lima dekade.
“Awalnya orang tua saya jualan bubur Madura. Tahun 1975-an kami pindah ke Kediri, lalu saya diminta melanjutkan jualan di Pasar Pahing,” ujarnya Minggu (19/7).
Setiap hari, Siti mulai memasak sejak pukul 02.00 WIB agar bubur siap dijual pada pagi hari. Ia mengaku tetap menggunakan resep lama tanpa mengurangi kualitas bahan baku meski harga kebutuhan pokok terus naik.
Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar 3 kilogram bubur sumsum putih, 1 kilogram mutiara, 2 kilogram ketan hitam, dan 2 kilogram grendul. Selain itu, ia juga menggunakan tiga butir kelapa segar setiap hari serta gula aren asli untuk menjaga cita rasa khas buburnya.
“Saya selalu mempertahankan rasa dari dulu. Walaupun kelapa mahal, tetap pakai tiga kelapa sehari. Gulanya juga pakai gula aren asli, bahan-bahannya tidak saya kurangi,” katanya.
Berkat konsistensi tersebut, dagangannya hampir selalu habis sebelum pukul 12.00 WIB. Dari yang semula dijual seharga Rp5 per porsi pada masa awal berjualan, kini bubur Madura racikannya dibanderol Rp4.000 per porsi.
Salah satu pelanggan, Mia, bahkan datang jauh-jauh dari Jambi demi kembali menikmati bubur yang pernah menjadi langganannya saat mondok di Kediri pada tahun 2000.
“Saya dulu mondok di Kediri tahun 2000. Setiap hari Jumat pasti beli bubur ini. Sekarang kebetulan ada acara keluarga di Kediri, jadi sekalian mampir karena sudah sekitar 26 tahun tidak merasakan bubur Ibu,” ungkapnya.
Mia mengaku sengaja mencari lokasi Bubur Madura legendaris tersebut begitu tiba di Kediri. Dengan bantuan warga sekitar, ia akhirnya kembali menemukan penjual yang selama ini hanya tersimpan dalam kenangan.
Menurutnya, cita rasa bubur tersebut tidak berubah meski telah puluhan tahun berlalu.
“Rasanya itu punya ciri khas sendiri, susah diungkapkan dengan kata-kata. Makanya yang ke Kediri wajib coba bubur ini, biar tidak penasaran,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









