Kediri – Isu seputar ketersediaan dan kualitas bahan bakar Pertalite membuat sebagian masyarakat di Kota Kediri mulai beralih menggunakan Pertamax. Kondisi ini terlihat di SPBU Joyoboyo Kota Kediri, di mana penjualan Pertamax meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir.
“Memang ada perubahan di stok kami, jadi Pertamax lebih sering habis karena peminatnya semakin banyak,” ujar Dewi, Pengawas SPBU Joyoboyo, Selasa (4/11).
Menurutnya, lonjakan konsumsi Pertamax sudah terjadi sejak awal munculnya berbagai isu tentang Pertalite. Jika sebelumnya penjualan harian Pertamax berkisar antara 5 hingga 6 ton, kini meningkat menjadi 8 hingga 9 ton per hari.
“Selisihnya sekitar dua ton dari bulan lalu,” tambah Dewi.
Sementara itu, penjualan Pertalite justru mengalami penurunan. Dari rata-rata 16 hingga 18 ton per hari, kini hanya tersisa sekitar 14 hingga 15 ton. “Turun hampir tiga ton, tapi tetap masih banyak yang menggunakan Pertalite,” jelasnya.
Kondisi meningkatnya permintaan Pertamax ini juga berdampak pada ketersediaan stok di lapangan. SPBU Joyoboyo beberapa kali mengalami kekosongan pasokan karena keterlambatan pengiriman dari Terminal BBM Surabaya.
“Kita setiap hari melakukan penebusan, tapi kadang pengiriman dari Surabaya tidak bisa dipastikan waktunya. Satu tangki biasanya juga melayani SPBU lain, jadi terkadang harus menunggu pembongkaran di sana dulu,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu pengendara, Yuyun, mengaku kini memilih beralih ke Pertamax setelah muncul berbagai isu terkait Pertalite. “Saya sempat khawatir motor jadi brebet seperti yang ramai diberitakan, jadi sekarang lebih aman pakai Pertamax saja,” ujarnya. kin/mg









