Kediri – Di balik kesibukannya sebagai anggota TNI, Sertu Supriadi (45) memiliki aktivitas lain yang dijalani dengan penuh ketelatenan. Setiap pagi dan sore, Babinsa Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini rutin merawat puluhan ekor burung Kenari Merah Lokal (Merlok) di rumahnya, Desa Doko, Kabupaten Kediri.
Dengan penuh kesabaran, Supriadi menyiapkan pakan berupa campuran sawi segar dan telur puyuh untuk burung-burung kenari miliknya. Khusus anakan, ia memberikan perhatian ekstra agar pertumbuhan dan warna bulu bisa maksimal.
“Kalau anakan memang harus ekstra. Biasanya saya kasih telur puyuh supaya cepat besar dan warna merahnya bisa keluar,” ujar Supriadi saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/1).
Kecintaan Supriadi terhadap kenari Merlok bermula sejak 2009, saat dirinya masih berdinas di Malang dan tinggal di asrama TNI. Awalnya hanya sekadar hobi memelihara beberapa ekor burung, namun seiring waktu, pengetahuan dan pengalamannya terus bertambah.
Pengalaman selama lebih dari satu dekade itulah yang kemudian menjadi modal saat ia pindah tugas ke Kediri pada 2020. Meski tanggung jawab kedinasan semakin padat, Supriadi tetap meluangkan waktu untuk menekuni ternak kenari Merlok.
“Awalnya memang murni hobi. Saya tertarik karena warna kenari Merlok ini beda, lebih indah dan mencolok,” ungkapnya.
Seiring bertambahnya jumlah ternak, sejumlah rekan dan tetangga mulai tertarik untuk membeli kenari miliknya. Dari situ, peluang usaha pun perlahan terbuka. Awalnya, Supriadi hanya mematok harga seadanya untuk menutup biaya pakan dan perawatan.
“Dulu niatnya cuma buat ganti ongkos makan burung. Tapi lama-lama yang pesan kok makin banyak,” tuturnya.
Kini, Supriadi memiliki puluhan ekor kenari Merlok dengan berbagai usia dan kualitas. Dalam sebulan, ia bisa menjual belasan ekor, mulai dari anakan usia satu bulan, kenari tembean usia enam hingga delapan bulan, hingga pejantan dengan kualitas unggulan.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Anakan usia satu bulan dibanderol mulai Rp250 ribu, sedangkan pejantan dengan warna merah pekat bisa mencapai Rp2 juta per ekor.
“Yang menentukan harga itu warna. Semakin merah dan merata, nilainya juga semakin tinggi,” jelasnya.
Meski usaha ternaknya kini cukup menjanjikan, Supriadi menegaskan bahwa tugas sebagai Babinsa tetap menjadi prioritas utama. Beternak kenari hanya ia lakukan di sela-sela waktu luang.
“Ini bukan hanya tambahan penghasilan tapi juga untuk melepas penat setelah menjalankan tugas negara,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some








