Kediri – Di tengah maraknya tempat kuliner modern, Warung Dhaharan Ponco Joyo hadir menawarkan sesuatu yang berbeda, konsep kuliner pedesaan dengan nuansa alami dan menu sambelan pedesan khas.
Terletak di Desa Wonojoyo, tak jauh dari kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), warung ini menjadi destinasi kuliner baru yang menggabungkan cita rasa tradisional dengan suasana desa yang tenang.
Menurut Budi Setiawan, manajer Warung Dhaharan Ponco Joyo, konsep utama warung ini berawal dari keinginan untuk mengembangkan sektor pariwisata kuliner di Kabupaten Kediri.
“Dasarnya memang untuk mengembangkan kepariwisataan kuliner di bidang pariwisata. Selain itu, tentu juga untuk kepentingan bisnis kami. Kami ingin menghadirkan warung sambelan pedesan dengan konsep alami dan sederhana, tapi tetap nyaman,” ungkapnya saat ditemui Rabu (29/10).
Warung Dhaharan Ponco Joyo mengusung desain desa dengan pemandangan persawahan yang didominasi unsur kayu dan suasana terbuka, menghadirkan kesan sederhana namun hangat bagi pengunjung. Menu andalannya adalah aneka sambelan pedesan, lengkap dengan pilihan lauk-pauk khas rumahan.
Tak hanya itu, warung ini juga melayani menu “by request” untuk pelanggan yang rindu masakan rumahan seperti sayur pepaya dengan lauk ikan asin dan lainnya.
“Beberapa pelanggan ingin makanan yang membawa memori masa lalu, jadi kami siapkan menu jadul tapi harus pesan dulu. Kami juga punya paket-paket untuk acara, termasuk menu umum seperti mie, nasi goreng, atau mie bakar,” jelas Budi.
Menariknya, Warung Dhaharan Ponco Joyo juga memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk ikut berkembang.
“Kami punya stand UMKM dan kami berikan tanpa sharing apa pun. Harapan kami, sektor kuliner ini bisa ikut menggerakkan UMKM lokal, terutama produk khas seperti tape Wonojoyo,” tambahnya.
Budi mengungkapkan, pemilihan lokasi di kawasan Wonojoyo bukan tanpa alasan. Meski tidak berada di tengah kota, kawasan ini dinilai strategis karena berada di jalur utama menuju SLG dan dikelilingi area sawah yang mendukung konsep pedesaan.
“Lahan ini dulunya kebunan dengan view sawah di barat, jadi kami pikir konsep pedesaan itu paling pas. Kami juga menambahkan beberapa spot selfie bernuansa dapur jadul agar pengunjung bisa menikmati pengalaman yang lebih lengkap,” katanya.
Dengan komitmen menjaga mutu rasa dan pelayanan, Budi percaya orang akan tetap datang kembali untuk merasakan masakan cita rasa desa di warung makan miliknya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









