Kediri, – Di tengah kesibukan Jalan HOS Cokroaminoto, tak jauh dari keramaian Pasar Pahing, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah menyimpan kisah panjang masa silam. Masjid itu bernama “Masjid Wakaf Jamsaren”, sebuah rumah ibadah yang diperkirakan telah berdiri sejak “tahun 1908”. Usianya telah melampaui satu abad, namun bentuk aslinya tetap lestari. Seolah waktu berhenti di dalamnya.
Masjid ini dinamai “Wakaf Jamsaren” bukan tanpa alasan. “Wakaf” menunjukkan bahwa tanahnya adalah hasil pemberian untuk kepentingan umat, sedangkan “Jamsaren” adalah nama kelurahan tempatnya berdiri, di wilayah Kecamatan Kota, Kediri. Di balik nama itu tersimpan sejarah panjang perjuangan seorang ulama, “Mbah Kiai Abdul Latief”, sang pendiri sekaligus pewakif tanah masjid.

Menurut penuturan salah satu takmir juga cicit dari sang pendiri sekaligus anggota takmir masjid, tidak ada catatan tertulis yang menjelaskan secara rinci siapa arsitek masjid ini atau kapan tepatnya dibangun. Bentuk masjid sudah seperti sekarang — tak berubah sedikit pun. “Yang boleh hanya pengembangan, tidak boleh diubah. Itu pesan Mbah Kiai dulu,” tuturnya dengan nada hormat.
Pesan sang kakek buyut bukan tanpa alasan. Sebagai bangunan wakaf, setiap perubahan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menghilangkan nilai sejarah dan amanah pendiri. Maka tak heran, hampir seluruh bagian utama masjid masih asli. “Jendela-jendela kayu”, “pintu-pintu besar”, dan “empat tiang saka guru” yang menopang bangunan utama masih berdiri kokoh sebagaimana lebih dari seratus tahun silam.
Langit-langit masjid terbuat dari “anyaman bambu (gedek)” yang kini sudah berwarna kecokelatan dimakan usia. Namun, meski telah melewati banyak musim, plafon itu tetap kuat. “Kalau bocor ya kami tambal, tidak diganti. Paling diberi lis kayu di pinggirannya,”




Keindahan arsitektur masjid ini menjadi daya tarik tersendiri. Di bagian luar berdiri “lebih dari dua puluh pilar bulat” yang tersusun melingkar dalam tiga lapisan. Antara satu pilar dan pilar lainnya dihubungkan oleh ornamen lengkung, menciptakan nuansa khas bangunan “Timur Tengah”. Namun, bagian dalamnya justru menampilkan “sentuhan arsitektur Jawa”. Empat saka guru di ruang utama menjadi simbol perpaduan budaya dan spiritualitas lokal, mirip rumah joglo yang megah tapi sederhana.
Selain keunikan strukturnya, Masjid Wakaf Jamsaren juga menyimpan peninggalan langka: “jam matahari”. Alat sederhana ini berbentuk kotak kecil dengan batang logam di atasnya, digunakan untuk menentukan waktu salat berdasarkan arah bayangan sinar matahari. “Kalau masjid tua pasti ada ini,” Benda ini menjadi saksi bisu bagaimana para jamaah zaman dahulu beribadah sebelum hadirnya teknologi modern.
Sekitar awal “tahun 2000-an”, masjid ini mulai mengalami perluasan ruang salat di sisi kanan dan kiri bangunan utama. Berdasarkan ukiran tahun di dindingnya, perluasan dilakukan sekitar “1423 Hijriyah” (sekitar 2002 Masehi). Namun, perluasan itu dilakukan tanpa mengubah struktur lama — tetap menjaga keaslian bangunan utama sebagaimana amanah pendiri.
Hingga kini, Masjid Wakaf Jamsaren tetap terawat dengan baik. Setiap “bulan Rajab”, para pengurus dan warga sekitar mengadakan kegiatan perawatan rutin, termasuk “pengecatan ulang”. Warna masjid kerap berganti antara putih dan krem, dua warna lembut yang mempertahankan kesan klasik dan suci.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan “penanda sejarah dan budaya”. Ia menjadi bukti betapa kuatnya nilai tradisi, ketaatan pada amanah, dan penghargaan terhadap warisan leluhur. Di tengah laju modernisasi kota Kediri, Masjid Wakaf Jamsaren berdiri tenang — menjadi pengingat bahwa sejarah bukan untuk dilupakan, melainkan dijaga dengan penuh cinta.
There is no ads to display, Please add some









