Kediri – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri menggelar Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dengan menyasar siswa kelas 1 dan kelas 5 sekolah dasar dengan target selesai di bulan Agustus. Program ini menjadi upaya pemerintah memberikan perlindungan terhadap penyakit tertentu sekaligus membentuk kekebalan kelompok di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri, Hendik Supriyanto, SKM., MMKes, menjelaskan dalam pelaksanaan BIAS, siswa kelas 1 mendapatkan imunisasi Measles Rubella (MR), sedangkan siswi kelas 5 mendapatkan imunisasi Human Papillomavirus (HPV).
“Imunisasi itu artinya memberikan kekebalan kepada seseorang terhadap virus tertentu. Antigennya berbeda-beda sesuai dengan penyakit yang ingin dicegah,” kata Hendik pada Kamis (13/8).
Imunisasi MR diberikan untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit campak dan rubella. Sementara imunisasi HPV diberikan sebagai salah satu upaya pencegahan kanker leher rahim yang berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus.
Hendik mengatakan, pelaksanaan BIAS tidak hanya bertujuan melindungi anak yang mendapatkan vaksin. Cakupan imunisasi yang tinggi diharapkan mampu membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.
“Kalau dalam satu sekolah semuanya sudah patuh dan menerima vaksinasi, nantinya akan tercipta kekebalan kelompok. Tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan sekitar,” jelasnya.
Menurutnya, kekebalan kelompok penting untuk menekan risiko penularan ketika terdapat orang dari luar wilayah yang membawa virus. Semakin banyak masyarakat yang memiliki kekebalan, semakin kecil peluang penyakit tersebut menyebar di lingkungan.
“Karena kita hidup bertetangga dan bersosialisasi, kita tidak bisa hanya menjaga diri sendiri. Kita juga harus menjaga keamanan dan kesehatan orang lain,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan BIAS, Dinkes Kota Kediri masih menghadapi sejumlah kendala, terutama adanya orang tua yang sempat menolak imunisasi. Sebagian wali murid mengaku khawatir terhadap efek samping vaksin dan belum memahami manfaat imunisasi.
Selain itu, informasi hoaks yang beredar di media sosial juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keraguan orang tua.
“Awalnya ada beberapa wali murid yang menolak. Kemudian kami berikan edukasi dan akhirnya mereka mau sehingga anak-anaknya bisa mendapatkan vaksinasi,” ungkap Hendik.
Dinkes mencatat capaian imunisasi di Tamanan telah mencapai 96,43 persen. Angka tersebut diharapkan terus meningkat hingga mencapai target 100 persen.
Hendik menegaskan, siswa yang belum mendapatkan imunisasi karena sakit, izin, atau tidak hadir saat pelaksanaan tidak akan langsung dinyatakan terlewat. Petugas akan melakukan tindak lanjut melalui kegiatan sweeping.
“Kalau saat pelaksanaan ada yang tidak hadir, nanti tetap kita tindak lanjuti. Ada sweeping, bahkan petugas bisa mendatangi rumah jika diperlukan. Harapannya semua anak mendapatkan imunisasi,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










