Kediri – Kota Kediri menjadi tuan rumah Forum Sinergi Perempuan Tim Penggerak PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), dan Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) se-Bakorwil I Madiun di Balaikota Kediri Senin (10/8). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi organisasi perempuan dalam mendukung pembangunan daerah.
Forum yang mempertemukan organisasi perempuan dari wilayah kerja Bakorwil I Madiun tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan sejumlah agenda, di antaranya pelantikan Dekranasda serta peluncuran Sistem Informasi Manajemen PKK (SIM PKK) Kota Kediri.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan forum tersebut memiliki nilai strategis karena pembangunan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia.
“Seringkali kita menganggap bahwa pembangunan ini hanya dari apa yang tampak secara fisik. Padahal pembangunan yang paling menentukan adalah pembangunan manusianya. Dan pembangunan manusia tentunya selalu dimulai dari sebuah keluarga,” ujar Vinanda.
Menurutnya, organisasi perempuan memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan manusia, karena bersentuhan langsung dengan keluarga dan masyarakat.
Ia menyebut TP PKK, DWP, GOW, Perwosi hingga Dekranasda bukan sekadar organisasi pendamping pemerintah. Keberadaan organisasi tersebut dapat menjadi kekuatan dalam menjalankan berbagai program, mulai dari pemberdayaan perempuan, pembinaan keluarga, peningkatan kesehatan masyarakat, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi dan prestasi.
“Pertemuan ini mungkin berlangsung hanya beberapa jam, tetapi saya yakin ini akan berdampak dan bisa dirasakan jauh lebih lama ketika ide-ide baik yang lahir dari kegiatan ini diwujudkan di daerah masing-masing,” katanya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Kediri, Hj. Faiqoh Azizah Muhammad Qowimuddin, mengatakan Kota Kediri menyambut hangat kedatangan keluarga besar organisasi perempuan se-Bakorwil I Madiun.
Dalam forum tersebut, TP PKK Kota Kediri juga memperkenalkan sejumlah inovasi dan program yang tengah dikembangkan. Salah satunya adalah SIM PKK yang diluncurkan untuk mendukung administrasi PKK agar lebih mudah, cepat, dan terintegrasi.
“Kami akan meluncurkan SIM PKK sebagai upaya agar administrasi PKK semakin mudah, cepat, dan terintegrasi. Kami juga memperkenalkan Buku Saku Krama Kirana yang kami harapkan dapat menjadi teman bagi para kader dalam menjalankan berbagai kegiatan di lapangan,” jelas Faiqoh.
Selain digitalisasi administrasi, TP PKK Kota Kediri juga terus mendorong peningkatan kapasitas dan kreativitas kader melalui berbagai kegiatan. Di antaranya lomba desain batik, lomba jingle PKK, Sekolah Remaja Putri Prameswari, hingga lomba cerdas cermat antarkader.
Faiqoh menegaskan, berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan PKK sebagai ruang untuk belajar, berkreasi, bergotong royong, dan saling menguatkan.
“Karena bagi kami, PKK bukan hanya tentang program kerja. PKK adalah tentang semangat gotong royong, belajar bersama, dan saling menguatkan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin mengapresiasi forum sinergi perempuan yang mempertemukan organisasi perempuan di wilayah Bakorwil I Madiun tersebut.
Menurut Arumi, Jawa Timur memiliki 38 kabupaten/kota dengan karakteristik dan kultur masyarakat yang beragam. Karena itu, pendekatan pembangunan di setiap wilayah tidak selalu dapat disamakan.
“Dengan adanya forum seperti ini kita bisa saling studi banding dan studi kasus. Karena Jawa Timur secara kuantitas merupakan provinsi dengan jumlah kabupaten/kota terbanyak di Indonesia, sehingga pendekatannya tentu berbeda-beda,” ujarnya.
Ia mencontohkan wilayah Mataraman yang memiliki karakteristik berbeda dengan wilayah Tapal Kuda maupun Madura. Perbedaan karakter tersebut membuat program dan pendekatan yang berhasil di satu daerah belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di daerah lain.
Arumi menilai sinergi antardaerah menjadi penting untuk saling bertukar pengalaman dan menemukan praktik baik yang dapat dikembangkan sesuai karakter masing-masing wilayah.
“Konsep kewilayahan itu harus terbangun. Membangun Indonesia, khususnya membangun Jawa Timur, tidak bisa dengan konsep sendiri-sendiri atau individualisme,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, tantangan generasi Z dan generasi Alpha berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga diperlukan pola pembinaan yang juga menyesuaikan perkembangan zaman.
“Pada akhirnya kepentingan kita itu satu, yaitu membangun manusianya, membangun Indonesia, dan membangun Indonesia yang berkewilayahan supaya kita majunya sama-sama menuju Indonesia Emas tahun 2045,” pungkasnya. kin/mg
There is no ads to display, Please add some










