Kediri – Kecintaan terhadap budaya leluhur mendorong Aris Wiyono, warga Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, untuk terus melestarikan tradisi perawatan pusaka. Di antara koleksi yang dimilikinya, terdapat sejumlah keris yang diperkirakan berasal dari era Mataraman dan masih terjaga kondisinya hingga saat ini.
“Saya tertarik pada dunia perkerisan sudah tumbuh sejak kecil karena berasal dari keluarga yang secara turun-temurun berkecimpung dalam bidang seni dan budaya Jawa. Amanah dari leluhur untuk menjaga pusaka menjadi alasan saya terus merawat dan melestarikan koleksi keris saya saat ini,” katanya Rabu (17/6).
Saat ini, Aris memiliki beberapa pusaka yang terdiri dari keris dan tombak. Secara keseluruhan, ia menyimpan kurang lebih belasan keris dan satu tombak yang dirawat secara rutin. Salah satu koleksinya yang menarik perhatian adalah keris yang diperkirakan berasal dari era Mataraman.
Menurut Aris, setiap keris memiliki karakteristik, pamor, dan filosofi yang berbeda-beda sesuai dengan masa pembuatannya. Salah satu koleksi yang dimilikinya adalah keris Jalak Ngore dengan pamor Selewah yang memiliki makna keharmonisan serta kemampuan seseorang untuk mudah beradaptasi dan diterima di berbagai lingkungan.
“Setiap keris mempunyai pamor dan filosofi tersendiri. Itu yang membuat keris bukan hanya bernilai seni, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi,” ujarnya.
Untuk menjaga kondisi pusaka tetap baik, Aris melakukan perawatan secara berkala melalui proses jamasan atau pembersihan keris. Ia lebih memilih menggunakan bahan-bahan alami seperti air kelapa tua yang difermentasi, buah mengkudu, dan jeruk nipis dibandingkan bahan kimia yang berpotensi merusak bilah keris yang telah berusia ratusan tahun.
Menurutnya, proses perawatan tersebut semata-mata bertujuan menjaga kondisi fisik pusaka dan melestarikan warisan budaya. Keris dipandang sebagai karya seni adiluhung hasil ketelitian para empu pada masanya yang patut dijaga keberadaannya.
Aris menambahkan, keris-keris peninggalan era Mataraman memiliki daya tarik tersendiri karena dibuat dengan teknik tempa yang detail dan menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Dari sisi nilai ekonomi, harga keris juga sangat beragam tergantung usia, kondisi, pamor, dan tangguhnya. Untuk salah satu koleksi keris era Mataraman yang dimilikinya, Aris menaksir nilainya berada di kisaran belasan juta rupiah.
Melalui perawatan dan pelestarian yang terus dilakukan, Aris berharap generasi muda semakin mengenal warisan budaya bangsa dan turut menjaga keberadaan benda-benda pusaka sebagai bagian dari identitas sejarah Indonesia.
“Yang terpenting adalah menjaga nilai sejarah dan budayanya. Keris merupakan warisan leluhur yang harus kita rawat dan lestarikan bersama,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










