Kediri – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Kota Kediri pasca Lebaran 2026 kini diterimakan 6 hari dalam seminggu. Sebelumnya mereka menerima MBG 2 kali dalam seminggu dengan 3 paket sekaligus untuk kebutuhan beberapa hari kedepan.
Dengan sistem tersebut total paket yang diterima tetap untuk enam hari, namun pola distribusi kini berubah menjadi setiap hari mulai Senin hingga Sabtu.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DP3AP2KB Kota Kediri, Siti Nur Laila Istiqomah, menjelaskan bahwa distribusi MBG masih bertahap karena menyesuaikan kesiapan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kalau disebut sudah berjalan enam hari, itu belum. Setelah Lebaran ini baru berjalan sekitar dua hari, dan belum semua kelurahan terjangkau,” ujarnya pada Rabu (1/4).
Ia menyebutkan, hingga data terakhir per 30 Maret 2026, jumlah penerima layanan MBG di Kota Kediri mencapai sekitar 9.700 sasaran.
“Misalnya di Kecamatan Mojoroto sudah ada 14 kelurahan yang terlayani. Kecamatan Kota dari 17 kelurahan baru 9, dan Kecamatan Pesantren dari 15 kelurahan baru 9. Ini masih terus bergerak,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan distribusi, kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) turut dilibatkan untuk mengantarkan makanan langsung ke rumah-rumah sasaran. Meski demikian, hingga saat ini belum ada kepastian terkait tambahan insentif bagi kader selama periode terbaru ini.
“Kami masih menunggu informasi resmi dari koordinator wilayah dan kecamatan SPPG. Surat edaran terbaru juga belum keluar, jadi kami belum bisa memastikan,” katanya.
Untuk pendistribusian MBG ini melibatkan 621 kader. Selama ini, kader diketahui mendapatkan insentif sebesar Rp1.000 per porsi (ompreng) yang didistribusikan.
“Mereka mengantarkan dari rumah ke rumah, jumlah ompreng yang diantar kader itu berbeda-beda di tiap kelurahan. Tergantung jumlah sasaran dan jumlah kader yang terlibat, jadi tidak bisa disamaratakan, ada yang dalam satu kelurahan sasarannya sekitar 100, pembagiannya menyesuaikan kondisi di lapangan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan kader bukan semata untuk program MBG, melainkan sudah lebih dulu bertugas sebagai pendamping keluarga dalam upaya pencegahan stunting. Distribusi MBG menjadi tugas tambahan yang melekat.
“Nah karena ada MBG 3B, beban mereka bertambah, sebelumnya kader mendapatkan insentif seribu per ompreng,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









