Kediri – Kawasan wisata Goa Selomangleng di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan saat musim libur, termasuk menjelang dan selama libur Lebaran. Selain menawarkan keindahan alam di kaki Gunung Klotok, tempat ini juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat.
Goa Selomangleng dikenal sebagai goa pertapaan lintas zaman yang telah digunakan sejak masa Kerajaan Kadiri atau Daha pada abad XI Masehi, berlanjut pada masa Kerajaan Singhasari pada abad XIII, hingga masa Kerajaan Majapahit pada abad XV. Fungsi utama goa ini pada masa lampau adalah sebagai tempat pertapaan serta lokasi pemujaan para dewa.
Secara arsitektur, goa ini memiliki berbagai ornamen dan relief bernilai tinggi. Di atas pintu masuk terdapat hiasan kepala Kala berahang bawah, dengan sepasang medalion bermotif flora di sisi kanan dan kiri. Di dalam ruangan terdapat padmasana atau lapik arca bermotif bunga teratai serta dua sandaran arca yang dipahat di dinding sisi utara.
Pada bagian lain goa juga ditemukan relung kecil yang dahulu digunakan sebagai tempat lampu penerangan minyak. Relung tersebut disangga oleh pahatan makhluk mitologi yang mengangkatnya dengan kedua tangan.
Salah satu relief menarik terdapat di ruang kedua, yang menggambarkan tokoh Garudeya tengah bertarung dengan seekor naga. Sementara di sisi barat terdapat bangunan memanjang menyerupai bale-bale dengan pahatan aksara Jawa Kuno bergaya kuadrat di bagian atasnya.
Di ruang lainnya terdapat relief yang menggambarkan lanskap sekitar Gunung Klotok, termasuk gambaran area pemakaman terbuka atau ksetra. Relief tersebut menampilkan berbagai adegan kehidupan, seperti aktivitas berburu, meramu bahan makanan, hingga gambaran permukiman berpanggung.
Tak hanya itu, terdapat pula pahatan tokoh pertapa yang diyakini sebagai Dhyani Buddha Amitabha dengan sikap tangan Dhyana Mudra. Pada bagian selatan terdapat relief Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan Dharmacakra Mudra.
Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, Goa Selomangleng juga dipercaya sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri mahkota Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.
Kepala UPTD Wisata Terpadu Selomangleng, Hery Widiyanto, mengatakan pihak pengelola terus berupaya meningkatkan kenyamanan pengunjung, terutama menjelang masa liburan.
“Tahun sebelumnya kami dari pengelola kawasan fokus menjaga kebersihan serta menata fasilitas seperti tempat parkir dan toilet semaksimal mungkin untuk menyambut libur Lebaran,” ujarnya pada Senin (16/3).
Selain wisata sejarah, kawasan ini juga sering menjadi lokasi pertunjukan budaya. Setiap tahun, paguyuban seni rutin menggelar pertunjukan jaranan di area Selomangleng untuk menarik wisatawan.
“Setiap tahun biasanya ada pertunjukan jaranan di sini. Selain wisata sejarah, pengunjung juga bisa bersantai karena ada taman dan kolam renang,” tambahnya.
Goa Selomangleng juga masih menjadi tempat pelaksanaan ritual oleh sejumlah kelompok spiritual. Biasanya, tiga hari sebelum pertunjukan jaranan digelar, paguyuban jaranan melakukan ritual di kawasan goa.
Dalam ritual tersebut, mereka membawa berbagai sesaji seperti cok bakal, telur, kembang telon, bunga sedap malam, dan dupa yang ditempatkan di area tertentu di dalam goa.
“Biasanya dari paguyuban jaranan melakukan ritual lebih dulu. Ada juga penghayat yang datang ke gua pada malam hari untuk berdoa,” jelas Hery.
Menurut keyakinan sebagian pengunjung spiritual, goa tersebut memiliki beberapa ruang yang dipercaya memiliki makna simbolik berbeda. Ada yang meyakini arah selatan berkaitan dengan laut selatan, sementara bagian utara dikaitkan dengan permohonan atau harapan.
Meski begitu, saat ini Goa Selomangleng tetap terbuka sebagai destinasi wisata sejarah, budaya, sekaligus tempat rekreasi keluarga yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. kin/mg
There is no ads to display, Please add some








