Kediri – Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Rabu (26/8). Pertemuan yang dipimpin mantan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin itu berlangsung sekitar dua jam dan membahas dinamika menjelang pelaksanaan Muktamar NU.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah hal terkait pelaksanaan muktamar, terutama pentingnya menjaga marwah organisasi serta memastikan seluruh proses berjalan sesuai nilai-nilai akhlak dan demokrasi.
Sejumlah kiai yang hadir di antaranya KH Athoillah Sholahuddin, KH Muadz Thohir dari Kajen, Pati, KH Abdullah Ubab Maimoen dari Sarang, Rembang, KH M Anwar Manshur dari Lirboyo, KH Ma’ruf Amin, KH Abdullah Kafabihi Mahrus dari Lirboyo, serta KH Muhibbul Aman Aly dari Besuk, Pasuruan.
Usai pertemuan, KH Ma’ruf Amin mengatakan para kiai menghasilkan tausiyah atau nasihat yang ditujukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Muktamar NU.
“Tausiyah ini artinya untuk mengingatkan semua pihak terutama kepada muktamirin sebagai pemegang hak utama supaya dia menggunakan haknya dengan baik jangan terintimidasi memilih yang terbaik baik ahwa maupun pengurus yang akan datang,” kata KH Ma’ruf Amin.
Ia menegaskan, seluruh pihak diharapkan menghindari tindakan yang tidak sesuai dengan akhlak dan nilai-nilai yang dijunjung NU.
“Kita harap para pelaksana dan panitia supaya menjaga muktamar kondusif dan berjalan demokratis, jujur dan sesuai akhlak NU,” ujarnya.
Selain muktamirin dan panitia, pemerintah juga menjadi salah satu pihak yang mendapat perhatian dalam tausiyah tersebut. Para kiai berharap pemerintah bersikap netral dan tidak melakukan intervensi terhadap proses internal organisasi NU.
“Supaya NU itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri sesuai dengan mekanisme,” tegasnya.
KH Ma’ruf Amin menambahkan, tausiyah tersebut nantinya akan disampaikan secara luas kepada seluruh pihak yang berkepentingan dengan pelaksanaan Muktamar NU.
“Ini inti dari tausiyah, nanti agak menukik, ada juga imbauannya,” pungkasnya.


Discussion about this post