Kediri – Sugeng Riyadi seolah kehilangan tenaga saat menyaksikan sebuah video pertandingan yang beredar di YouTube, Senin (5/1). Di layar ponselnya, terlihat jelas tubuh anaknya, Firman Nugraha, terhempas setelah menerima tendangan kungfu ke bagian dada oleh salah satu pemain dari PS Putra Jaya.
“Rasanya seperti darah saya berhenti mengalir karena khawatir,” ucap Sugeng (48) lirih saat ditemui di rumahnya di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri pada Kamis (8/1).
Peristiwa itu terjadi dalam pertandingan babak 32 besar Liga 4 Indonesia Zona Jawa Timur antara Persatuan Sepak Bola Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung di Bangkalan Madura. Tendangan keras tersebut dilepaskan oleh pemain PS Putra Jaya, Muhammad Hilmi, dan mengenai dada Firman yang saat itu memperkuat Perseta 1970.
Sugeng mengaku mengetahui kejadian itu bukan dari pihak tim, melainkan dari tayangan video di media sosial dan YouTube. Ironisnya, saat itu Firman belum bisa dihubungi sama sekali.
“Saya tahunya dari YouTube. Anak saya tidak bisa dihubungi, telepon tidak aktif. Saya khawatir sekali, takut terjadi apa-apa,” katanya.
Kekhawatiran keluarga semakin memuncak karena Sugeng tahu betul kondisi fisik Firman setelah benturan keras tersebut. Ia membayangkan kemungkinan terburuk, apalagi tendangan itu langsung mengarah ke dada.
Baru pada sore hari, Firman akhirnya bisa dihubungi dan memberi kabar bahwa dirinya telah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rontgen. Hasilnya menunjukkan retak pada tulang rusuk, meski tidak sampai mengancam nyawa.
“Mungkin Firman kalau saya khawatir karena pekerjaan saya kuli bangunan juga terkendala biaya, ya saya hanya berharap dia sehat dan baik-baik saja,” ujar Sugeng.
Sugeng menyebut Firman sebagai anak yang penyabar dan tidak pernah membalas dengan kekerasan di lapangan. Sejak kecil, Firman memang dikenal mencintai sepak bola dan sudah bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) sejak duduk di bangku kelas 6 SD.
“Dia itu prinsipnya ingin menang, tapi tetap sportif. Dia nggak pernah balas kasar karena memang saya didik dari kecil boleh main keras tapi jangan sampai kasar, kalau ada yang mengasari dihindari,” tuturnya.
Saat ini, Firman masih menjalani pemulihan dan disarankan istirahat total sekitar satu bulan, termasuk tidak berlatih maupun bertanding. Kondisi ini tentu menjadi pukulan berat, bukan hanya bagi Firman, tetapi juga bagi keluarganya.
“Yang penting anak saya sehat. Soal sepak bola nanti dulu. Saya cuma berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” pungkas Sugeng.kin/mg









