Kediri – Tak banyak yang tahu, salah satu hotel tertua di Kota Kediri lahir dari jejak perjuangan seorang veteran kemerdekaan. Hotel RIS, yang hingga kini masih berdiri dan beroperasi sederhana, berawal dari rumah keluarga pejuang yang kemudian berkembang menjadi penginapan rakyat sejak tahun 1949.
Hotel ini dirintis oleh ayah dari Daniel Solikin, seorang veteran yang terlibat langsung dalam perjuangan gerilya melawan penjajah. Usai masa perjuangan, sang ayah membeli sebidang tanah yang dulunya merupakan milik Belanda. Tanah tersebut kemudian dibangun mejadi hotel.
“Waktu itu bapak tidak punya uang kontan. Jadi belinya dicicil saat itu. Sedikit-sedikit sampai lunas,” tutur Daniel Solikin, penerus generasi kedua Hotel RIS, saat ditemui.
Nama Hotel RIS sendiri memiliki makna historis yang kuat. Selain merujuk pada periode Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1948, nama tersebut juga dimaknai sebagai singkatan dari Rumah Istirahat Sentosa, sebuah tempat singgah bagi siapa saja yang membutuhkan penginapan sederhana.
Hotel RIS mulai beroperasi sekitar tahun 1949. Pada masa awal, bangunan tersebut hanyalah rumah tinggal yang difungsikan sebagai penginapan, dengan jumlah kamar sangat terbatas, layaknya kos-kosan. Meski sederhana, hotel ini sempat menjadi tempat persinggahan tentara, polisi, hingga artis yang terkenal pada masanya, khususnya pada era 1950–1960-an.
“Dulu tentara sering tinggal di sini, bahkan seperti markas. Tapi ya banyak yang tidak bayar,” kenang Daniel.
Seiring waktu, Hotel RIS terus bertahan. Kini jumlah kamar mencapai sekitar 50 unit, meski sebagian di antaranya dalam kondisi rusak dan belum sepenuhnya layak pakai. Hotel ini menyasar segmen menengah ke bawah, dengan tarif terjangkau dan konsep penginapan sederhana.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, biaya operasional dan pajak tetap menjadi kewajiban yang harus ditunaikan. “Pajak, listrik, semuanya tetap bayar. Ini sudah jadi warisan keluarga,” ujarnya.
Hotel RIS hingga kini masih berstatus sebagai warisan yang belum terbagi, mengingat banyaknya ahli waris dan sebagian di antaranya telah meninggal dunia. Namun, semangat untuk mempertahankan usaha peninggalan orang tua tetap dijaga.
Saat ini, estafet pengelolaan hotel juga diteruskan oleh generasi berikutnya, Lufi Liliana, anak dari Daniel Solikin, yang menjadi penerus ketiga usaha keluarga ini. kin/mg
There is no ads to display, Please add some







