Kediri – Pondok Pesantren Lirboyo terus berkomitmen melestarikan sejumlah bangunan lama yang menjadi saksi awal perjalanan pesantren. Pelestarian ini dilakukan bukan semata menjaga fisik bangunan, tetapi lebih pada merawat nilai historis, edukatif, dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Abdul Muid Shohib, menegaskan bahwa bangunan-bangunan lama memiliki makna penting dalam proses pendidikan santri. Menurutnya, keberadaan bangunan tua merupakan napak tilas perjuangan para masyayikh dalam merintis pesantren dengan penuh kesederhanaan dan keikhlasan.
“Bangunan lama ini bukan sekadar peninggalan fisik, tetapi menjadi saksi sejarah perjuangan para pendahulu. Dari sinilah santri bisa belajar bahwa pesantren dibangun dengan kesahajaan, pengorbanan, dan keikhlasan,” tutur Gus Muid, sapaan akrabnya, Kamis, (26/02/2026).
Sejumlah bangunan lama yang hingga kini tetap dilestarikan antara lain Langgar Angkring, yang dikenal sebagai langgar pertama di Lirboyo. Langgar ini menjadi indikator awal berdirinya pesantren sekitar tahun 1910, ditandai dengan keberadaan santri pertama, Umar, murid dari pendiri pesantren KH Abdul Karim. Meski telah mengalami renovasi, struktur utama dan kayu aslinya tetap dipertahankan, termasuk posisi bangunan yang dahulu berada “nangkring”.
Selain itu, masih terdapat pondok lama yang dahulu menjadi pusat kegiatan santri generasi awal, tembok putih sebagai penanda batas kamar dalam dan kamar luar, serta sumur tua yang menjadi bagian penting dari kehidupan santri tempo dulu.
Warisan sejarah lainnya adalah jam istiwak, alat penunjuk waktu berbasis pergerakan matahari yang dahulu digunakan untuk menentukan waktu salat sekaligus media pembelajaran ilmu falak. Hingga kini, keberadaan jam istiwak tetap dijaga sebagai simbol integrasi keilmuan Islam klasik di lingkungan pesantren.
Tak hanya itu, gerbang lama pesantren dan Masjid Lawang 9 juga masih berdiri kokoh dan aktif digunakan. Masjid Lawang 9 menjadi salah satu ikon spiritual pesantren yang terus hidup dalam aktivitas ibadah dan pengajian santri.
Gus Muid menambahkan, dalam menjaga bangunan lama, pesantren menerapkan prinsip kehati-hatian agar modernisasi tidak menghilangkan identitas pesantren.
“Kami berusaha menyeimbangkan antara pelestarian nilai sejarah dengan kebutuhan fasilitas pendidikan. Renovasi dilakukan seperlunya, tanpa menghilangkan ruh dan identitas pesantren,” jelasnya.
Menurutnya, bangunan lama tidak hanya bermakna bagi santri aktif, tetapi juga menyimpan memori spiritual mendalam bagi para alumni. Oleh karena itu, kesadaran untuk merawat warisan pesantren terus ditanamkan melalui pembiasaan dan keteladanan.
“Menjaga kebersihan dan merawat lingkungan pesantren adalah bagian dari adab dan penghormatan kepada para pendiri. Ini juga bagian dari pendidikan karakter santri,” pungkas Gus Muid. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









