Kediri – Setiap bulan sekali, kegiatan Kampung Dongeng Kediri selalu dipenuhi tawa anak-anak. Komunitas yang dipimpin Ulya, perempuan kelahiran Kediri tahun 1980 ini, menghadirkan dongeng dan aktivitas kreatif untuk anak-anak dengan cara yang ringan dan menyenangkan.
“Namanya Kampung Dongeng, berarti isinya ya dongeng. Kami ini pemandu wisata imajinasi,” ujar Ulya. Komunitas ini memang fokus pada dunia anak karena menurutnya kebiasaan baik paling mudah ditanamkan sejak usia dini.
Kampung Dongeng Kediri berdiri sebelum masa pandemi di tahun 2019. Awalnya, Ulya yang sudah lama berkecimpung di dunia anak dan seni bertemu komunitas pendongeng dari Bojonegoro dalam sebuah acara kelurahan. Dari pertemuan itu, ia belajar penggunaan puppet dan kemudian didorong untuk membuat Kampung Dongeng versi Kediri. “Ya sesimpel itu, dan mengalir sampai sekarang,” katanya.
Dalam dua tahun terakhir, mereka mulai menonjolkan isu lingkungan dalam setiap kegiatan. Menurut Ulya, darurat sampah menjadi alasan mereka mengangkat tema ekologis melalui dongeng. Topik-topik itu disampaikan dengan cara sederhana agar mudah diterima anak-anak, seperti membuat kompos mini dalam toples atau membuat karya dari bahan daur ulang.
Setiap bulannya, mereka menggelar “Pekan Ceria” yang berisi gerak atau ice-breaking, dongeng, dan sesi berkarya. Kegiatan ini biasanya diikuti hingga ratusan anak. Tempat kegiatannya berpindah-pindah, menyesuaikan lokasi yang tersedia, mulai dari taman kota, atau pun area publik. Informasi kegiatan dibagikan melalui media sosial miliknya.
Ulya sendiri sudah akrab dengan dunia dongeng sejak kecil. Ayahnya seorang pemain teater, sehingga ia tumbuh bersama panggung, wayang, dan buku. Setelah menempuh pendidikan di Pondok Gontor Putri dan kembali ke Kediri pada 2004, ia langsung terjun mengajar di madrasah dan kemudian ikut merintis sekolah alam serta taman baca bersama keluarga.
Ulya mendongen dengan menggunakan media puppet hingga wayang yang dapat menarik perhatian anak-anak. “Anak-anak paling suka kalau ceritanya horror dan superhero jadi kita buat wayang ada yang hantu juga superman gitu,” katanya.
Ia juga pernah mengalami masa-masa sulit saat mendongeng. Pernah suatu kali dongengnya tak dihiraukan anak-anak. “Berarti apa yang kusampaikan nggak nyambung. Ya sudah, belajar lagi,” katanya. Dari pengalaman itu, ia terus memperbaiki teknik bercerita.
Kini, selain kegiatan rutin komunitas, Ulya juga kerap diundang sekolah dan instansi, termasuk Dinas Kesehatan, untuk mengisi dongeng bertema kesehatan dan stunting.
Lewat cerita dan kegiatan kreatif yang sederhana, Kampung Dongeng Kediri berharap anak-anak dapat tumbuh dengan kebiasaan baik, termasuk peduli pada lingkungan. “Yang penting anak-anak senang dulu. Kalau sudah senang, pesan apa pun bisa masuk pelan-pelan,” pungkasnya. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









