Kediri – Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri terus mempercepat transformasi digital dalam pengelolaan pasar tradisional. Setelah diterapkan di beberapa pasar seperti di pasar Banjaran, digitalisasi parkir ditargetkan menjangkau lima dari sembilan pasar yang dikelola pada 2026.
Direktur Utama PD Pasar Kota Kediri, Djauhari Luthfi, mengatakan digitalisasi tidak hanya diterapkan pada sistem parkir, tetapi juga pengelolaan kios. Melalui sistem tersebut, setiap pengguna memencet tombol untuk memperoleh tiket parkir secara otomatis sehingga seluruh transaksi tercatat secara digital.
“Digitalisasi ini harapan utamanya untuk meningkatkan pendapatan. Selain itu juga sebagai bagian dari transformasi penggunaan sistem digital dan memastikan seluruh proses tersistem sehingga tidak ada kebocoran,” ujarnya Senin (3/8).
Ia menjelaskan, digitalisasi kios telah lebih dulu diterapkan di Pasar Grosir Ngronggo sejak 2025. Sementara pada 2026, sistem digitalisasi parkir mulai diimplementasikan. Saat ini, digitalisasi parkir dan kios telah berjalan di Pasar Banjaran pada tahun 2025 dan Pasar Grosir Ngronggo per 1 Juli 2026.
Tahun ini, PD Pasar menargetkan penambahan implementasi di Pasar Setonobetek, Pasar Pahing dan Pasar Bandar. Dengan demikian, total lima pasar akan menggunakan sistem parkir digital. Adapun empat pasar lainnya belum memungkinkan menerapkan sistem serupa karena karakteristik pasar yang berbeda, yakni Pasar Mrican, Pasar Bandar Ngalim, Pasar Hewan, dan Pasar Bawang.
Menurut Djauhari, seluruh pintu masuk dan keluar nantinya akan saling terhubung sehingga kendaraan dapat keluar melalui gate yang berbeda tanpa mengganggu pencatatan data. Desain tersebut juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasar agar tidak menimbulkan antrean kendaraan.
Ia menambahkan, penerapan digitalisasi telah memberikan dampak positif terhadap pendapatan perusahaan. Sejak sistem diterapkan, pendapatan mengalami kenaikan sekitar 10 persen.
“Alhamdulillah pendapatan meningkat, minimal sekitar 10 persen. Karena semua transaksi tercatat dan pengawasannya lebih mudah,” katanya.
Meski demikian, Djauhari mengakui proses digitalisasi di pasar tradisional masih menghadapi tantangan. Sebagian pedagang maupun pengunjung belum terbiasa menggunakan sistem digital sehingga petugas masih harus membantu proses pemindaian barcode maupun pengambilan tiket.
“Yang sulit itu membiasakan masyarakat. Di pasar tradisional penggunanya sangat beragam, bahkan masih ada yang belum menggunakan ponsel. Karena itu kami tetap mendampingi sampai mereka terbiasa,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










