Kediri – Museum Sri Aji Jayabaya Kabupaten Kediri menghadirkan wajah baru usai melakukan penataan ulang ruang pamer dan penambahan koleksi. Renovasi yang selesai dan kembali dibuka pada 19 Mei 2026 itu langsung menarik perhatian pengunjung, termasuk rombongan pelajar sekolah dasar yang difokuskan untuk kegiatan edukasi sejarah dan budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Mustika melalui Edukator Museum Airlangga, M. Ipung Zainul Islam Sumarwoto, mengatakan perubahan terbesar terlihat pada penataan alur pengunjung serta penyempurnaan display koleksi agar lebih aman dan nyaman dilihat masyarakat.
Menurutnya, sebelumnya pengunjung kerap menumpuk di area koleksi pengolahan tanah dan air dengan koleksi kondowong sehingga membuat ruang gerak sempit dan mengganggu aktivitas pengambilan foto. Karena itu, sejumlah koleksi kini dipindahkan ke bagian belakang untuk memperluas area kunjungan.
“Bagian depan sekarang lebih dimaksimalkan untuk alur pengunjung. Kemarin sering terjadi penumpukan, jadi sekarang ditata ulang supaya lebih luas dan nyaman,” ujarnya Jumat (22/5).
Selain penataan ruangan, museum juga menambahkan sejumlah koleksi dan melengkapi alur cerita atau story line pameran. Beberapa koleksi tambahan di antaranya lingga, lapik arca, kartikeya, miniatur lumbung, hingga dorpel. Total koleksi yang dipamerkan kini mencapai 54 benda.
Salah satu koleksi yang menjadi perhatian ialah miniatur lumbung yang kini ditampilkan dalam bentuk utuh. Sebelumnya bagian-bagiannya masih terpisah, namun setelah renovasi dirangkai kembali sehingga lebih mudah dipahami pengunjung.
Ipung menjelaskan miniatur lumbung tersebut merupakan prototipe awal pelinggih, yakni tempat ibadah masyarakat Hindu yang biasanya berada di depan rumah.
“Kalau sekarang kita rangkai jadi miniatur lumbung yang utuh. Itu merupakan prototipe awal dari pelinggih,” katanya.
Dari total empat miniatur lumbung yang dimiliki museum, satu di antaranya sempat mengalami kerusakan dan telah diperbaiki selama proses renovasi yang memakan waktu sekitar satu bulan.
Museum juga mulai menggunakan pelindung kaca pada sejumlah koleksi tertentu. Langkah itu dilakukan untuk menjaga benda bersejarah yang rawan rusak akibat sentuhan langsung pengunjung.
Ipung menyebut minyak dari tangan manusia dapat merusak permukaan koleksi. Bahkan, arca Nandi koleksi dari Tondowongso disebut mulai mengalami perubahan warna pada bagian wajah karena sering disentuh pengunjung.
“Yang di kaca itu koleksi yang rawan rusak. Karena tangan manusia ternyata berminyak, jadi beberapa koleksi mulai terdampak,” jelasnya.
Sementara koleksi yang tidak diberi pelindung kaca merupakan benda yang sejak awal memang ditempatkan di area luar ruangan atau bersifat outdoor sehingga dinilai lebih tahan terhadap kondisi lingkungan.
Sejak dibuka kembali pada 19 Mei lalu, museum disebut sudah menerima ratusan pengunjung. Mayoritas datang dalam rombongan pelajar untuk mengikuti wisata edukasi sejarah dan budaya lokal.
“Di awal pembukaan itu kita menerima ratusan pengunjung edukasi dari sekolah dasar sekitar 280 pengunjung,” pungkasnya. kin/mg
There is no ads to display, Please add some










