Kediri – Ratusan jemaah yang tergabung dalam Forum Tabayun Kota Kediri melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Lapangan Futsal Sekartaji, Kota Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (19/3).
Jemaah yang hadir diperkirakan mencapai 200 hingga 300 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Pelaksanaan salat berlangsung khidmat dan tertib tanpa adanya gangguan.
Sekretaris Forum Tabayun Kota Kediri, Hadi Sasongko, menjelaskan bahwa penentuan 1 Syawal yang dilakukan pihaknya mengacu pada metode rukyatul hilal secara global. Dasar tersebut merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari, yang menyebutkan bahwa umat Islam berpuasa dan berhari raya berdasarkan terlihatnya hilal.
“Dasarnya adalah perintah Rasulullah SAW untuk berpuasa dan berhari raya ketika melihat hilal. Jika hilal terlihat di suatu tempat dan informasinya valid, maka itu bisa menjadi acuan bagi umat Islam secara global,” ujarnya.
Menurut Hadi, di era modern saat ini, informasi terkait terlihatnya hilal dapat diperoleh dengan cepat dan akurat melalui berbagai sarana komunikasi. Ia menyebutkan bahwa laporan rukyat dari sejumlah negara seperti Afghanistan, Mali, Nigeria, dan Maroko turut menjadi pertimbangan.
“Di negara-negara tersebut juga ada tim resmi yang melakukan rukyatul hilal seperti di Indonesia. Jika sudah diumumkan dan dinyatakan sah, maka seharusnya itu bisa dijadikan dasar,” tambahnya.
Meski demikian, pihaknya menegaskan tetap mengedepankan kehati-hatian dalam memvalidasi informasi. Apabila laporan terlihatnya hilal tidak dapat dipastikan keabsahannya, maka Forum Tabayun memilih untuk menunggu dan menyesuaikan dengan kondisi mayoritas umat Islam.
Terkait adanya perbedaan penetapan hari raya dengan mayoritas umat Muslim di Indonesia, Hadi menilai hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi karena umat Islam memiliki dasar ajaran yang sama.
“Perbedaan ini tentu bisa membingungkan masyarakat. Seharusnya kita berpegang pada dalil yang kuat, bukan sekadar logika. Namun kami juga tetap mengedepankan kehati-hatian dan mempertimbangkan kebersamaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu, pihaknya juga bisa menyesuaikan dengan keputusan yang lebih luas apabila informasi yang dijadikan dasar tidak valid.
Pelaksanaan Salat Idulfitri oleh Forum Tabayun ini menjadi salah satu fenomena perbedaan penetapan hari raya yang kembali terjadi di tengah masyarakat.
“Saat terjadi perbedaan, kami memilih untuk menyesuaikan diri atau melaksanakan sendiri sesuai keyakinan kami,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some








