Kediri – Warga Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri sepakat untuk tidak membongkar Patung Macan Putih yang sempat viral di media sosial. Patung tersebut justru akan tetap dilestarikan sebagai ikon dan penanda desa.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama warga. Selain itu, pihak desa juga berencana menggelar kegiatan Car Free Day (CFD) di sekitar lokasi patung untuk memfasilitasi masyarakat, khususnya warga dari luar daerah, yang ingin melihat langsung patung tersebut.
“Patung Macan Putih ini tetap kami pertahankan. Ke depan, kami juga akan mengadakan CFD di lokasi agar masyarakat bisa berkunjung dengan nyaman,” ujar Safi’i.
Sebelumnya, keberadaan patung ikonik karya seniman lokal bernama Suwari itu sempat menuai pro dan kontra. Sebagian pihak menilai bentuk patung tidak menyerupai macan putih sebagaimana yang dibayangkan, sehingga sempat muncul wacana pembongkaran.
Namun demikian, warga Balongjeruk menilai patung tersebut memiliki nilai simbolis dan menjadi identitas desa. Patung Macan Putih itu dikerjakan selama 18 hari, dimulai pada Senin Pahing.
Safi’i juga menegaskan bahwa pembangunan patung tersebut tidak menggunakan dana desa. Seluruh proses pembuatan murni dibiayai dari dana pribadi sebesar Rp3,5 juta.
“Ini murni dana pribadi, bukan dari dana desa. Jadi kami ingin meluruskan agar tidak muncul kesalahpahaman di masyarakat,” tegasnya.
Dengan keputusan ini, Patung Macan Putih diharapkan dapat menjadi daya tarik baru sekaligus simbol kebanggaan warga Desa Balongjeruk.kin/mg










