Kediri – Kostum daur ulang yang dikenakan Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, pada gelaran Dhoho Night Carnival (DNC) sukses mencuri perhatian. Busana dari bahan daur ulang berpadu tenun ikat khas Kediri itu merupakan karya desainer lokal, Zety Musthafa, pemilik Zalma Boutique.
Di balik tampilannya yang mewah, kostum ini sepenuhnya dibuat dari bahan daur ulang yang dikumpulkan hanya dalam waktu satu hari dan dirampungkan dalam proses produksi kilat selama dua hari.
Zety mengungkapkan bahwa inspirasi utama kostum tersebut adalah edukasi lingkungan, khususnya untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap persoalan sampah.
“Konsep dan inspirasi pembuatan baju daur ulang itu bentuk kepedulian terhadap lingkungan, untuk mengedukasi masyarakat tentang sampah dan pentingnya bahan daur ulang,” jelasnya.
Untuk kostum Wali Kota, Zety menggunakan material bekas bungkus bumbu masakan, deterjen, hingga kemasan snack. Bagian hijab diberi sentuhan ornamen dari kabel ties yang dihias ulang dan rok dihias dengan tutup botol. Tantangan terbesar justru terletak pada permintaan khusus dari Wali Kota agar seluruh ornamen berasal dari plastik bukan kain perca atau bahan umum lainnya.
“Beliau menghendaki bahan plastik. Beliau minta warna ungu seperti bungkus deterjen, tapi kami kesulitan, akhirnya kami pakai bungkus jajanan,” tuturnya.
Bahan-bahan tersebut dikumpulkan dari berbagai tempat, mulai pasar loak hingga pedagang perlengkapan seperti tikar di acara pengajian. Setelah bahan terkumpul, proses pembuatan dilakukan penuh ketelitian, terutama pada bagian rok dan teknik pewarnaan ornamen yang semula berwarna putih. “Kabel ties-nya putih semua. Kami bingung bagaimana membuatnya ungu, akhirnya kami glitter,” katanya.
Tak hanya untuk Wali Kota, Zety juga mengerjakan kostum untuk Wakil Wali Kota Kediri, Gus Qowim, menggunakan kertas koran bekas yang dilapisi plastik bening pembungkus taplak meja. Sementara kostum istri Wakil Wali Kota dibuat dari sedotan besar yang biasa dipakai untuk minuman boba. Proses pemasangannya pun lebih kompleks karena bahan sedotan tidak bisa ditempel langsung ke kain.
“Sedotan harus dilapisi kain dulu, baru plastik, lalu ditempel. Kami harus coba beberapa kali agar kuat dan tidak mudah lepas,” terangnya.
Dalam tiga hari, Zety menyelesaikan tiga kostum sekaligus termasuk satu set penuh untuk Wali Kota mulai dari busana, aksesori, hingga hijab, rompi untuk Wakil Wali Kota, serta setelan untuk istri Wakil Wali Kota. Meski bekerja dalam tekanan waktu, Zety tetap memastikan sentuhan lokal tetap melekat melalui tenun Bandar, motif khas Kediri yang juga menjadi ciri warna ungu dalam busana tersebut. kin/mg
There is no ads to display, Please add some








