Jakarta – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si, memberikan pembekalan dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), pada Rabu (8/4). Mengusung tema “Memperkuat Ketahanan Nasional Indonesia di Tengah Perubahan Geopolitik Dunia”, Ace Hasan menekankan pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga kedaulatan bangsa di era disrupsi.
Dalam paparannya, Gubernur Lemhannas menyoroti dinamika kedaulatan yang kini tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga kekuatan non-militer seperti kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Ketahanan Nasional adalah kemampuan kita untuk mandiri dan menentukan arah kebijakan bangsa sendiri. Di tengah ketidakpastian global dan persaingan kekuatan besar dunia, Indonesia memiliki posisi strategis yang luar biasa,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan tantangan nyata bagi generasi muda, mulai dari krisis identitas hingga penetrasi ideologi asing melalui ruang digital. Oleh karena itu, ia mengajak LDII untuk terus konsisten membangun SDM yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat berdasarkan Pancasila dan nilai-nilai religius.
Menanggapi arahan tersebut, Ketua LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, menyatakan kesiapannya untuk menginstruksikan penguatan wawasan kebangsaan di tingkat akar rumput.
“Kami di daerah sangat menyadari bahwa tantangan geopolitik ini berdampak langsung pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat. LDII Kota Kediri berkomitmen menjadikan nilai-nilai ketahanan nasional sebagai bagian dari dakwah kami, guna memastikan warga LDII tetap solid, toleran, dan menjadi motor penggerak pembangunan di Kota Kediri menuju Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Ia menyambut baik materi pembekalan tersebut. Ia menilai bahwa LDII memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa yang kuat dan berakhlak.
“Materi dari Lemhannas ini sangat relevan bagi kami. LDII akan terus berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan dan siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh menekankan peran vital lembaga pendidikan pesantren dalam membentengi generasi muda dari dampak negatif disrupsi teknologi.
“Pesantren adalah benteng pertahanan mental dan ideologi. Sebagaimana pesan Gubernur Lemhannas mengenai kedaulatan digital, kami di Ponpes Wali Barokah terus membekali santri dengan literasi digital yang sehat. Kami ingin melahirkan generasi yang berakhlakul karimah, ‘alim-faqih’, namun tetap memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi agar tidak mudah tergerus oleh infiltrasi budaya asing yang merusak,” tegasnya.
Dengan daya tampung mencapai 3.000 orang santri dari penjuru Indonesia, Ponpes Wali Barokah mengharapkan Lemhannas hadir di kalangan santri melalui Goes To Campus atau Goes to Pesantren. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan pesantren dan ketahanan nasional.
“Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Kami di Ponpes Wali Barokah berupaya menanamkan nilai keimanan, kemandirian, serta kecintaan terhadap tanah air sebagai bagian dari ketahanan nasional,” ungkap Daud Soleh. mg
There is no ads to display, Please add some








