Kediri – Suara kenteng mengawali pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Ploso, Kediri pada Sabtu (20/6).
Bagi masyarakat umum, benda tersebut mungkin tampak seperti besi tua. Namun bagi keluarga besar Ploso, kenteng merupakan simbol sejarah, perjuangan, sekaligus identitas pesantren yang telah diwariskan lintas generasi.
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), yang juga alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso, menjelaskan bahwa kenteng yang digunakan dalam pembukaan Munas-Konbes memiliki sejarah panjang sejak masa penjajahan Belanda.
Menurutnya, kenteng tersebut berasal dari bom peninggalan Belanda yang ditemukan di lingkungan pesantren setelah masa kemerdekaan. Bom yang semula berpotensi membawa bahaya itu kemudian dimodifikasi dan dimanfaatkan sebagai alat penanda berbagai aktivitas pesantren.
“Di Ploso itu ada namanya kenteng. Dulu ceritanya ada bom yang dikirim Belanda ke belakang pesantren. Alhamdulillah tidak meledak. Setelah masa perjuangan kemerdekaan, bom itu ditemukan lalu dimodifikasi menjadi kenteng yang digunakan untuk penanda shalat, mengaji, dan berbagai kegiatan pesantren,” ujar Gus Salam.
Ia menuturkan, sejak sekitar akhir 1940-an hingga awal 1950-an, kenteng menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan santri. Suaranya digunakan untuk menandai waktu jamaah shalat, pengajian, hingga aktivitas belajar mengajar.
Bahkan, menurut Gus Salam, para santri pada masa lalu kerap berebut kesempatan membunyikan kenteng karena benda tersebut memiliki nilai tersendiri dalam tradisi pesantren.
“Dulu santri-santri sering berebut untuk memukul kenteng. Saya sendiri pernah menyimpan pemukulnya di kamar supaya tidak keduluan yang lain. Itu menjadi kenangan yang sangat melekat bagi alumni Ploso,” katanya.
Lebih dari sekadar alat penanda waktu, kenteng juga menyimpan pesan filosofis. Gus Salam menilai perubahan fungsi bom menjadi kenteng menunjukkan bahwa sesuatu yang awalnya membawa mudarat dapat diubah menjadi sumber kemanfaatan melalui kreativitas dan niat baik.
“Segala sesuatu itu pada dasarnya netral. Tinggal bagaimana manusia memanfaatkannya. Kenteng ini berasal dari bom yang seharusnya berbahaya, tetapi kemudian diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk mengingatkan orang pada shalat dan pengajian. Semua hal memiliki potensi untuk menjadi kebaikan,” ujarnya.
Karena nilai sejarah dan makna simboliknya itulah, penggunaan kenteng dalam pembukaan Munas-Konbes NU 2026 dinilai memiliki makna yang mendalam bagi warga Ploso dan Nahdliyin. Benda yang telah menjadi ikon pesantren selama puluhan tahun itu dipilih untuk menandai dimulainya forum tertinggi NU di bawah Muktamar.
“Bagi keluarga besar Ploso, kenteng sangat ikonik dan identik dengan pesantren ini. Mungkin satu-satunya pesantren di Indonesia yang penanda shalat dan ngajinya menggunakan kenteng. Karena itu ketika kenteng digunakan untuk membuka Munas-Konbes, ada nuansa spiritual dan historis yang sangat kuat bagi kami,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










