Kediri – Di balik tugas mengatur dan mengawasi lalu lintas, Aiptu Agung Broto, Banit Turjagwali Satlantas Polres Kediri Kota, dikenal sebagai sosok polisi yang tak pernah ragu berhenti untuk menolong warga yang mengalami kesulitan di jalan. Bagi Aiptu Agung, membantu masyarakat bukanlah hal luar biasa, melainkan bagian dari panggilan hati.
“Kita kan sehari-hari di jalan. Pasti ketemu orang kesusahan, kendaraan mogok, bensin habis, atau ban bocor. Kalau saya lihat, saya pasti berhenti,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pertolongan yang dilakukannya murni karena empati, tanpa motif lain. “Saya menempatkan diri saya sebagai orang yang sedang kesusahan di jalan. Itu dari hati saya sendiri, ikhlas. Tidak ada unsur apa pun,” katanya.
Selama bertugas, Aiptu Agung mengaku hampir selalu berusaha membantu setiap persoalan yang ia temui di jalan. “Alhamdulillah, selama saya jumpai, rata-rata bisa saya atasi,” tambahnya.
Aiptu Agung bukanlah sosok baru di dunia kepolisian. Ia mulai masuk Polri pada tahun 1999, lalu bertugas di Kediri sejak tahun 2000. Kariernya diwarnai berbagai penugasan, mulai dari lalu lintas, Sabhara, hingga kembali ke fungsi lantas.
“Saya mulai di lalu lintas, pernah pindah ke Sabhara, lalu kembali lagi ke lantas sampai sekarang,” jelasnya.
Pria kelahiran Ngawi, 25 Juni 1979 ini menegaskan bahwa nilai kemanusiaan harus selalu menjadi pegangan setiap anggota Polri.
“Kalau kita lihat orang kesusahan tapi kita diam saja, rasanya tidak tega. Polisi itu harus hadir dan bermanfaat,” tuturnya.
Dengan sikap sederhana namun konsisten, Aiptu Agung Broto menjadi contoh bahwa wajah polisi yang humanis hadir dari tindakan nyata, bukan sekadar slogan. kin/mg










