Kediri – Gereja Merah Kediri menyimpan sebuah Alkitab kuno yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Kitab yang dicetak pada tahun 1867 dan berbahasa Belanda kuno tersebut hingga kini masih terawat dan menjadi salah satu benda bersejarah penting di gereja Merah.
Juru pelihara Gereja GPIB Immanuel Kediri, Hendrik Lorenz, menjelaskan Alkitab tersebut pertama kali dibawa ke Kediri oleh Pendeta Brurie Yohanes Assah, yang pernah bertugas di Kediri pada kisaran tahun 1985-1990. Setelah bertugas di Kediri, Pendeta Brurie melanjutkan pelayanan ke wilayah Plaju, Sungai Gerong, Palembang.
“Di sana beliau mengetahui adanya Alkitab kuno. Beliau teringat bahwa Gedung Gereja Merah di Kediri merupakan bangunan lama dan lebih aman untuk penyimpanan, dibandingkan lokasi asal yang saat itu sedang dibongkar,” jelas Hendrik.
Karena alasan keamanan, Alkitab tersebut kemudian dibawa Pendeta Brurie ke Yogyakarta saat melanjutkan studi. Dari Yogyakarta, Alkitab ini selanjutnya dibawa ke Kediri dengan bantuan jemaat, disertai surat jalan dan keterangan resmi. Sejak tahun 1999, Alkitab tersebut disimpan di Gereja Merah Kediri.
Menurut Hendrik, pada awalnya Alkitab kuno ini sempat digunakan dalam ibadah Minggu. “Dulu saya letakkan di tengah dan dibuka setiap hari Minggu, disesuaikan dengan inti khotbah yang dibacakan,” ujarnya.
Kemudian demi menjaga alkitab yang usianya satu abad lebih tersebut, kini pihak gereja mengeluarkan alkitab hanya saat ibadah hari besar. Alkitab tersebut memiliki berat sekitar lima kilogram, berlapis sampul tebal dan pengunci besi.
Alkitab kuno tersebut dicetak di Belanda dan menggunakan bahasa Belanda lama. Meski tidak tercantum secara jelas nama penulis maupun penerjemahnya, terdapat pengesahan dari pihak percetakan di Belanda. Secara fisik, kondisinya dinilai masih cukup baik.
“Sekitar 80 persen masih bagus, meski ada beberapa bagian yang sobek dan terlepas. Tahun lalu Alkitab ini sudah didigitalisasi oleh Dinas Kearsipan,” katanya.
Hingga kini, belum ada kajian atau penelitian khusus terhadap Alkitab tersebut. Namun ke depan, pengelola gereja bersama pemerintah daerah berencana meningkatkan sistem pemeliharaan.
“Kami berharap Alkitab ini bisa ditempatkan di ruang khusus berbahan kaca agar dapat dilihat pengunjung. Selain itu, ada usulan digitalisasi dengan barcode, sehingga isinya bisa diakses tanpa membuka fisik Alkitab,” pungkas Hendrik.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









