Kediri – Sebanyak sekitar 2.000 pelajar dari jenjang SMP/MTs hingga SMA/SMK mengikuti Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Palang Merah Remaja (PMR) Kabupaten Kediri 2026 pada Selasa (28/7). Kegiatan yang digelar dua tahun sekali itu berlangsung mulai 27 hingga 30 Juli 2026 sebagai ajang pembinaan karakter sekaligus peningkatan keterampilan kemanusiaan bagi generasi muda.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Solikin, mengatakan Jumbara menjadi wadah bagi anggota PMR untuk mengembangkan minat, bakat, serta kemampuan di bidang kepalangmerahan.
“Ini menjadi wadah bagi anak-anak kita untuk menyalurkan minat, bakat, dan kemampuan di organisasi PMR. Karena organisasi ini peduli kepada sesama dan kemanusiaan, ini menjadi bekal yang sangat baik bagi masa depan anak-anak kita maupun masa depan bangsa,” ujarnya.
Menurut Solikin, nilai kepedulian sosial yang ditanamkan melalui PMR sangat penting di tengah tantangan kehidupan masyarakat saat ini. Ia berharap para peserta nantinya dapat menjadi relawan kemanusiaan maupun bergabung dalam Korps Sukarela (KSR) PMI.
“Terutama ketika terjadi bencana atau saat masyarakat membutuhkan donor darah, mereka sudah memiliki bekal kepedulian dan keterampilan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Markas PMI Kabupaten Kediri, Triatmono Wahyoe, menjelaskan Jumbara tingkat Madya (SMP/MTs) diikuti 57 kontingen. Setiap kontingen terdiri atas 22 peserta serta didampingi dua pembina. Selain itu, sekitar 150 panitia turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Selama empat hari, peserta mengikuti 12 jenis perlombaan dan kegiatan yang menguji kemampuan teori maupun praktik, mulai dari pertolongan pertama, dapur umum, traveling kepalangmerahan, kesehatan remaja, kepemimpinan, donor darah sukarela, hingga berbagai permainan edukatif.
Menurut Triatmono, tujuan utama Jumbara bukan sekadar mencari juara, melainkan menanamkan jiwa kemanusiaan sejak usia sekolah.
“Sekarang ini kepedulian terhadap sesama mulai berkurang. Melalui PMR kami ingin menanamkan rasa kemanusiaan, disiplin, dan kepedulian sejak dini. Harapannya setelah lulus, mereka mau menjadi pendonor darah sukarela maupun relawan bencana,” katanya.
Ia mengungkapkan, PMI saat ini masih menghadapi tantangan dalam merekrut relawan baru. Karena itu, pembinaan melalui PMR menjadi investasi penting untuk menyiapkan kader kemanusiaan di masa depan.
Triatmono juga menjelaskan, sejumlah perlombaan dirancang menyerupai kondisi nyata di lapangan. Pada lomba pertolongan pertama misalnya, peserta dilatih menangani kasus perdarahan hingga patah tulang ringan. Sementara pada lomba dapur umum, peserta belajar menyusun menu bergizi, mengelola logistik, hingga mendistribusikan makanan bagi pengungsi sesuai kebutuhan.
“Semua mengacu pada standar internasional dari IFRC, sehingga keterampilan yang dipelajari memang sesuai dengan pedoman kemanusiaan internasional,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menyoroti masih minimnya minat pelajar laki-laki mengikuti ekstrakurikuler PMR. Menurutnya, masih banyak yang beranggapan PMR identik dengan dunia kesehatan atau keperawatan, padahal relawan PMI juga dituntut memiliki kemampuan di bidang penanggulangan bencana.
Salah seorang peserta PMR SMA Negeri 1 Wates, Rahma Latuh Maharani, mengatakan pihaknya telah melakukan persiapan selama kurang lebih tiga bulan untuk mengikuti seluruh rangkaian lomba.
“Tujuan kami mengikuti Jumbara bukan hanya berkompetisi, tetapi juga mengukur kemampuan anak-anak setelah mendapatkan materi di sekolah, sekaligus memperluas relasi dengan peserta dari sekolah lain di Kabupaten Kediri,” pungkasnya. kin/mg
There is no ads to display, Please add some









