Kediri – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri akan dimulai dengan serangkaian pemeriksaan kesehatan gratis (CKG) dan tes diagnostik bagi seluruh siswa. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus memetakan bakat, minat, dan kebutuhan pendampingan setiap peserta didik sejak hari pertama masuk sekolah.
PIC Sekolah Rakyat Terintegrasi 2, Neneng Rusmayanti, menjelaskan pemeriksaan kesehatan dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan. Seluruh siswa akan menjalani pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
“Mulai dari kesehatan gigi, kesehatan lambung, tinggi badan, berat badan, pokoknya semua yang tampak pada fisik anak akan diperiksa. Selain itu juga ada tes diagnostik untuk melihat bakat, minat, kecenderungan, serta kesiapan pendukung pendidikannya,” ujarnya Senin (13/7).
Selama pelaksanaan MPLS, pendampingan siswa akan dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga wali asrama dari Sekolah Rakyat Kabupaten Mojokerto. Pendampingan ini berlangsung selama sekitar dua pekan sebagai bagian dari proses mentoring sebelum tenaga pendidik yang ditugaskan dari Kota Kediri mulai bertugas.
“Karena Sekolah Rakyat Kota Kediri masih baru, sementara ini kami didampingi tim dari Mojokerto yang sudah memiliki pengalaman. Mereka akan melakukan mentoring dan coaching kepada tenaga kependidikan di sini,” katanya.
Khusus bagi siswa jenjang SD yang baru pertama kali tinggal di asrama, peran wali asrama dinilai sangat penting untuk membantu proses adaptasi. Saat ini terdapat 10 wali asrama dari Mojokerto yang mendampingi siswa dengan rasio sekitar satu pendamping untuk 10 anak.
Menurut Neneng, pendampingan sementara tersebut dilakukan karena proses pengadaan tenaga kependidikan, termasuk wali asrama dan wali asuh berstatus ASN oleh Kementerian Sosial, diperkirakan baru rampung pada pertengahan September.
“Begitu tenaga kependidikan yang berstatus ASN sudah tersedia, nanti mereka yang akan menggantikan pendamping sementara,” jelasnya.
Neneng mengungkapkan, berdasarkan pengamatannya, mayoritas siswa menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Bahkan, banyak anak yang sudah siap tinggal terpisah dari orang tua.
“Yang paling penting itu ketika anak sudah berani lepas dari orang tua. Kalau sudah begitu, proses pembinaan akan lebih mudah dibandingkan jika anak masih terus ingin pulang,” tuturnya.
Terkait proses pembelajaran, Nining menegaskan Sekolah Rakyat tetap menggunakan kurikulum nasional yang sama dengan sekolah reguler pada jenjang SD, SMP, maupun SMA. Perbedaannya terletak pada sistem pendidikan berasrama yang menekankan pembentukan karakter, kemandirian, dan kedisiplinan.
Selain memperoleh pendidikan tanpa biaya, seluruh kebutuhan dasar siswa juga dipenuhi, mulai dari makan, tempat tinggal, seragam hingga fasilitas belajar berbasis teknologi.
“Di kelas sudah menggunakan smart TV, kemudian setiap siswa menggunakan laptop untuk pembelajaran. Laptop tersebut merupakan fasilitas sekolah sehingga hanya digunakan selama proses belajar,” katanya.
Tak hanya itu, siswa juga didorong mengembangkan potensi di bidang akademik maupun nonakademik. Sekolah memberikan kesempatan seluas-luasnya mengikuti berbagai kompetisi, termasuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan ajang lainnya, dengan seluruh pembiayaan ditanggung sekolah.
“Prinsipnya sama seperti sekolah reguler, tetapi ada nilai tambah berupa pembiasaan hidup mandiri, disiplin, dan pembinaan karakter melalui sistem asrama,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










