Kediri – Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menilai Menteri Agama RI, Prof. KH. Nasaruddin Umar merupakan salah satu figur yang berpotensi memperoleh dukungan luas dalam dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama mendatang.
Hal itu disampaikan Gus Ipul saat menjawab pertanyaan awak media terkait sejumlah nama yang mulai diperbincangkan menjelang Muktamar NU.
Menurutnya, jika melihat rekam jejak kepemimpinan NU selama beberapa dekade terakhir, terdapat pola tertentu yang menunjukkan posisi-posisi strategis yang kerap menjadi jalur menuju kursi Ketua Umum PBNU.
“Prof Nasaruddin Umar ini pernah menjadi Katib Aam pada era KH Hasyim Muzadi. Jadi beliau sangat berpotensi, kalau melihat statistiknya,” ujar Gus Ipul saat kunjungan persiapan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri pada Selasa (16/6).
Gus Ipul menjelaskan, dalam sejarah NU modern, sejumlah Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menduduki jabatan Katib Aam. Ia mencontohkan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, hingga KH Yahya Cholil Staquf yang sama-sama memiliki pengalaman sebagai Katib Aam sebelum memimpin PBNU.
“Sejak zaman Gus Dur, paling tidak dalam 40 tahun terakhir, tiga Ketua Umum sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Gus Dur sebelum Ketua Umum menjadi Katib Aam, kemudian KH Hasyim Muzadi, dan terakhir Gus Yahya juga pernah menjadi Katib Aam,” katanya.
Selain jabatan Katib Aam, Gus Ipul menyebut posisi Sekretaris Jenderal PBNU maupun Ketua PWNU Jawa Timur juga kerap menjadi latar belakang tokoh-tokoh yang kemudian menempati posisi Ketua Umum PBNU.
Ia mencontohkan KH Idham Chalid yang sebelum menjadi Ketua Umum PBNU pernah menjabat Sekretaris Jenderal PBNU. Sementara KH Hasyim Muzadi sebelum memimpin PBNU pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Timur.
“Kalau melihat statistik, yang pernah menjadi Sekjen ada potensi, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur juga berpotensi, dan yang pernah menjadi Katib Aam juga berpotensi,” ujarnya.
Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa pembahasan mengenai calon Ketua Umum PBNU belum menjadi agenda resmi Munas dan Konbes NU.
Forum yang akan digelar pada 20-22 Juni 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso itu lebih difokuskan pada pembahasan materi-materi strategis menuju Muktamar.
Terkait dirinya yang juga masuk dalam kategori figur potensial karena menjabat Sekjen PBNU, Gus Ipul menegaskan tidak memiliki keinginan untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan NU.
“Saya sudah menyatakan dengan jelas, saya tidak mencalonkan diri dan tidak mau dicalonkan. Dua-duanya,” tegasnya.
Meski belum ada pembahasan resmi mengenai calon Ketua Umum PBNU, Gus Ipul mengakui nama Prof. Nasaruddin Umar kerap muncul dalam berbagai pertemuan dan diskusi yang ia hadiri di sejumlah daerah.
“Kalau saya keliling ke beberapa daerah, memang Prof Nasar disebut-sebut. Selebihnya nanti tentu tergantung dinamika yang berkembang,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










