Kediri – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan posisi strategis Jawa Timur sebagai daerah penopang utama produksi gula nasional saat menghadiri kegiatan bongkar ratoon tebu di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5).
Dalam kegiatan tersebut, Khofifah didampingi Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, pelaku industri gula, dan perwakilan sektor perkebunan.
Khofifah menyebut Jawa Timur memiliki peran vital dalam mendukung target swasembada gula nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu upaya yang terus didorong ialah percepatan bongkar ratoon guna meningkatkan produktivitas tebu dan kualitas hasil panen petani.
“Percepatan bongkar ratoon harus terus dilakukan, tetapi yang paling penting adalah ekosistem pasca penggilingan gula juga harus dipastikan berjalan baik,” ujar Khofifah.
Menurutnya, petani tebu tidak hanya membutuhkan dukungan pada proses budidaya, tetapi juga kepastian pasar setelah gula diproduksi.
Khofifah mengungkapkan, persoalan yang sempat terjadi sebelumnya bukan karena harga gula rendah, melainkan hasil produksi petani tidak terserap maksimal saat lelang berlangsung.
“Masalahnya bukan harga murah, tetapi tidak ada penawaran saat lelang gula dilakukan,” imbuhnya.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi membanjirnya gula rafinasi di pasar sehingga gula produksi petani lokal sulit bersaing. Karena itu, Pemprov Jatim terus mendorong pengawasan ketat terhadap distribusi gula rafinasi agar hanya digunakan untuk kebutuhan industri.
“Kalau gula rafinasi masuk ke pasar konsumsi, tentu gula petani menjadi tidak kompetitif,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi menyebut sekitar 85 persen produksi gula nasional saat ini berasal dari Jawa Timur.
“Tahun ini target bongkar ratoon nasional mencapai 97 ribu hektar dan Jawa Timur menjadi penopang utamanya,” jelas Mahmudi.
Ia menambahkan, program bongkar ratoon bertujuan meningkatkan produktivitas tebu, kapasitas giling pabrik gula, serta rendemen yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
Menurutnya, Kabupaten Kediri menjadi salah satu daerah dengan target bongkar ratoon tertinggi di Jawa Timur.
“Target di Kediri mencapai 7 ribu hektar dan saat ini sudah terbit SK untuk lebih dari 2 ribu hektar,” katanya.
Di sisi lain, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan Kabupaten Kediri merupakan salah satu sentra tebu terbesar di Jawa Timur dengan luas lahan mencapai 22.297 hektar.
Pada 2025, capaian bongkar ratoon di Kabupaten Kediri tercatat mencapai 3.864 hektar melalui dukungan APBN maupun swadaya petani.
Pemkab Kediri, lanjut Mbak Dewi, juga terus menyalurkan bantuan alat pertanian seperti traktor dan sarana pendukung budidaya tebu guna meningkatkan produktivitas petani.
“Kami berharap petani tebu di Kabupaten Kediri terus meningkatkan kualitas dan produktivitas sehingga kesejahteraan petani juga ikut meningkat,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some










